Laporan Laba Rugi: Fungsi, Komponen, Bentuk, dan Contohnya

Oleh Pegadaian dalam Wirausaha

06 August 2026
Bagikan :
image detail artikel

Laporan laba rugi adalah salah satu laporan keuangan yang menunjukkan pendapatan, beban, serta hasil akhir berupa laba atau rugi dalam suatu periode tertentu.

Melalui laporan laba rugi, kamu dapat mengetahui apakah bisnis memperoleh keuntungan, mengalami kerugian, atau masih perlu meningkatkan efisiensi operasional.

Pada artikel ini, kamu akan mempelajari pengertian, fungsi, komponen, hingga bentuk laporan laba rugi agar lebih mudah mengelola kondisi keuangan bisnis. Mari simak hingga akhir.

Apa Itu Laporan Laba Rugi?

Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang menyajikan seluruh pendapatan dan beban perusahaan selama satu periode akuntansi.

Hasil akhirnya menunjukkan laba bersih atau rugi bersih yang menjadi gambaran kinerja keuangan suatu bisnis.

Laporan laba rugi umumnya disusun pada akhir bulan, akhir kuartal, atau akhir tahun sebagai bagian dari proses pembukuan.

Bersama neraca dan laporan arus kas, laporan laba rugi menjadi dasar untuk mengevaluasi kondisi finansial perusahaan.

Informasi yang terdapat dalam laporan laba rugi membantu pemilik usaha mengambil keputusan, seperti meningkatkan penjualan, menekan biaya operasional, atau menyusun strategi bisnis.

Oleh karena perannya itu, laporan laba rugi menjadi dokumen penting bagi manajemen maupun pihak eksternal.

Dalam penyusunan laporan laba rugi, terdapat beberapa unsur utama yang selalu muncul meskipun formatnya dapat berbeda sesuai jenis usaha, yaitu:

  • Laba (profit), yaitu selisih pendapatan dan beban.
  • Pendapatan (revenue), yaitu pendapatan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan operasional selama periode tertentu. Dapat disajikan dalam bentuk pendapatan bruto atau pendapatan bersih setelah dikurangi retur dan potongan penjualan.
  • Rugi (loss), yaitu penurunan manfaat ekonomi yang mengurangi ekuitas dan umumnya timbul dari transaksi di luar aktivitas utama perusahaan.
  • Beban (expense), yaitu pengurangan manfaat ekonomi selama suatu periode, baik berupa pengeluaran kas maupun nonkas, seperti penyusutan.


Keempat unsur tersebut saling berkaitan dan menjadi dasar dalam menghitung laba atau rugi yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode.

Baca juga: Laporan Keuangan: Pengertian, Tujuan, Jenis, & Pembuatannya

Fungsi Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi memiliki fungsi penting sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan.

Informasi dalam laporan laba rugi membantu pemilik usaha, investor, hingga lembaga keuangan melihat performa bisnis secara objektif. Berikut beberapa fungsi utama laporan laba rugi:

1. Mengukur Kinerja Keuangan

Laporan laba rugi membantu perusahaan melihat kondisi keuangan dalam periode tertentu melalui perbandingan antara pendapatan dan beban.

Dari data tersebut, kamu dapat mengetahui apakah target keuntungan telah tercapai atau masih perlu diperbaiki.

2. Membantu Pengambilan Keputusan Bisnis

Informasi dalam laporan laba rugi menjadi dasar bagi pemilik usaha maupun manajemen untuk menentukan langkah bisnis berikutnya.

Misalnya, perusahaan dapat menekan biaya operasional, meningkatkan penjualan, atau mengevaluasi strategi yang kurang efektif.

3. Membantu Perencanaan Keuangan

Data yang terdapat pada laporan laba rugi dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun anggaran dan target keuangan pada periode berikutnya. Dengan begitu, perusahaan dapat merencanakan penggunaan dana secara lebih efisien.

4. Menilai Kelayakan Investasi

Investor sering menggunakan laporan laba rugi untuk menilai prospek suatu perusahaan. Laba bersih yang stabil menunjukkan potensi bisnis yang baik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan calon investor.

5. Melaporkan Kinerja kepada Pihak Eksternal

Laporan laba rugi juga dibutuhkan oleh pihak luar, seperti bank, investor, dan pemerintah, sebagai bukti kondisi keuangan perusahaan sekaligus menunjukkan kepatuhan terhadap kewajiban pelaporan yang berlaku.

Agar dapat membaca maupun menyusun laporan dengan benar, kamu perlu memahami setiap komponen yang memengaruhi perhitungan laba dan rugi perusahaan.

Komponen Utama dalam Membuat Laporan Laba Rugi

Setiap laporan laba rugi tersusun dari beberapa komponen utama yang saling berkaitan, yaitu sebagai berikut:

  • Harga Pokok Penjualan (HPP), yaitu biaya langsung untuk menghasilkan barang atau jasa.
  • Pendapatan atau penjualan dari aktivitas utama perusahaan.
  • Laba kotor, yaitu selisih antara pendapatan dan HPP.
  • Beban operasional, seperti biaya administrasi, pemasaran, dan gaji karyawan.
  • EBITDA menunjukkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
  • EBIT atau laba operasional, yaitu laba dari kegiatan usaha sebelum bunga dan pajak.
  • Beban bunga atas pinjaman yang dimiliki perusahaan.
  • EBT (Earnings Before Tax) atau laba sebelum pajak.
  • Pajak penghasilan yang menjadi kewajiban perusahaan.
  • Laba bersih, yaitu laba akhir setelah seluruh beban dan pajak dikurangi.
  • Pendapatan dan beban lain, misalnya keuntungan atau kerugian selisih kurs, keuntungan atau kerugian pelepasan aset, atau pos lain di luar aktivitas utama perusahaan.


Dengan memahami setiap komponen tersebut, kamu dapat mengetahui dari mana keuntungan diperoleh serta biaya apa saja yang perlu dikendalikan agar kondisi keuangan bisnis tetap sehat.

Baca juga: Laporan Perubahan Modal: Fungsi, Komponen, & Cara Membuatnya

Bentuk Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi umumnya disusun dalam dua bentuk, yaitu single-step dan multiple-step. Perbedaannya terletak pada tingkat kerincian dalam penyajian pendapatan dan beban. Berikut penjelasannya:

1. Single-Step

Pada metode single-step, seluruh pendapatan dikelompokkan menjadi satu bagian, sedangkan semua beban juga dijumlahkan dalam satu kelompok.

Laba bersih diperoleh dari selisih antara total pendapatan dan total beban. Contohnya adalah sebagai berikut:

PT Maju Sejahtera
Laporan Laba Rugi
Periode Januari–Desember 2025

Pendapatan: Rp620.000.000

Beban:
Harga Pokok Penjualan (HPP): Rp250.000.000
Beban Operasional: Rp180.000.000
Pajak: Rp40.000.000

Total Beban = HPP + Beban Operasional + Pajak
= Rp250.000.000 + Rp180.000.000 + Rp40.000.000
= Rp470.000.000

Laba Bersih = Pendapatan - Total Beban
= Rp620.000.000 - Rp470.000.000
= Rp150.000.000

Jadi, laba bersih yang diterima PT Maju Sejahtera selama 2025 adalah Rp150.000.000.

2. Multiple-Step

Metode multiple-step menyajikan perhitungan secara lebih rinci sehingga memudahkan analisis kinerja operasional perusahaan. Berikut adalah contohnya:

PT Sentosa Abadi
Laporan Laba Rugi
Periode Januari–Desember 2025

Penjualan Bersih: Rp900.000.000

Harga Pokok Penjualan: Rp510.000.000

Laba Kotor = Penjualan Bersih - Harga Pokok Penjualan (HPP)
= Rp900.000.000 - Rp510.000.000
= Rp390.000.000

Beban Operasional:
Biaya Pemasaran: Rp60.000.000
Biaya Administrasi: Rp80.000.000
Total Beban Operasional: Rp60.000.000 + Rp80.000.000 = Rp140.000.000

Laba Operasi = Laba Kotor - Beban Operasional
= Rp390.000.000 - Rp140.000.000
= Rp250.000.000

Laba Sebelum Pajak = Laba Operasi + Pendapatan Lain - Beban Lain
= Rp250.000.000

Pajak Penghasilan (20%): Rp50.000.000

Laba Bersih = Laba Sebelum Pajak - Pajak Penghasilan
= Rp250.000.000 - Rp50.000.000
= Rp200.000.000

Jadi, menurut laporan laba rugi di atas, PT Sentosa Abadi selama 2025 membukukan laba bersih Rp200.000.000.

Laporan laba rugi bukan hanya membantu mengevaluasi keuntungan, tetapi juga menjadi dasar untuk menentukan langkah bisnis berikutnya.

Jika hasil evaluasi menunjukkan kebutuhan tambahan modal agar operasional tetap berjalan lancar, memilih sumber pembiayaan resmi merupakan keputusan yang tepat.

Baca juga: Akuntansi: Jenis, Tujuan, Proses, & Manfaatnya dalam Bisnis

Tambah Modal Usaha dengan Gadai BPKB Pegadaian

Gadai BPKB Pegadaian merupakan solusi pembiayaan bagi pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor.

Selain selama masa pinjaman, kendaraan tetap dapat digunakan sehingga aktivitas usaha tidak terganggu, keunggulan yang ditawarkan lainnya adalah:

  • Plafon pinjaman sesuai kebutuhan usaha.
  • Pilihan tenor yang fleksibel.
  • Angsuran tetap sehingga lebih mudah direncanakan.


Untuk mengajukan pinjaman, persyaratannya adalah WNI memiliki e-KTP dan NPWP, berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah, berdomisili tetap, serta memiliki usaha yang berjalan minimal 1 tahun.

Setelah menyerahkan dokumen persyaratan dan jaminan, proses dilanjutkan dengan survei dan verifikasi usaha. Jika Pegadaian memberikan persetujuan pinjaman dan dana dicairkan, akan dilakukan pendampingan selama masa pembiayaan.

Jadi, mari dukung pengembangan usaha dengan tambahan modal dari Gadai BPKB Pegadaian yang dapat kamu ajukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung di kantor cabang Pegadaian terdekat.

Baca juga: Contoh Laporan Rencana Anggaran Biaya dan Cara Membuatnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved