Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP): Rumus dan Contohnya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Wirausaha

14 August 2026
Bagikan :
image detail artikel

Dalam menjalankan bisnis perdagangan maupun manufaktur, menentukan harga jual produk tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Agar bisnis terhindar dari kerugian dan mampu mencetak keuntungan yang terukur, pelaku usaha harus memahami cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).

HPP adalah total biaya langsung yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh atau memproduksi barang dagangan yang siap dijual dalam satu periode tertentu.

Berikut adalah panduan lengkap mengenai rumus, komponen biaya, hingga simulasi cara menghitung HPP dengan akurat.

Rumus Utama Harga Pokok Penjualan (HPP)

Secara umum, rumus dasar untuk menghitung harga pokok penjualan adalah:

HPP= (Persediaan Awal + Pembelian Bersih) - Persediaan Akhir

Atau dapat dituliskan dengan formula penyederhanaan:

HPP = Barang Tersedia untuk Dijual - Persediaan Akhir

Keterangan:

  • Persediaan Awal: Nilai total stok barang atau bahan baku yang tersedia di awal periode akuntansi.
  • Pembelian Bersih: Total seluruh pembelian stok barang ditambah biaya angkut, dikurangi diskon dan retur pembelian.
  • Persediaan Akhir: Nilai total sisa stok barang pada akhir periode akuntansi (berdasarkan stock opname).


Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Penjualan Bisnis: Strategi Efektif untuk Naik Omzet

3 Komponen Utama dalam Perhitungan HPP

Untuk menerapkan rumus di atas, Anda harus menyiapkan data dari tiga komponen utama penyusun HPP berikut:

1. Persediaan Awal Barang (Beginning Inventory)

Persediaan awal adalah nilai barang dagangan yang masih tersisa dari periode sebelumnya dan siap digunakan untuk proses produksi atau penjualan di periode berjalan.

Nilai persediaan awal dapat dilihat pada laporan neraca perusahaan periode sebelumnya.

2. Pembelian Bersih (Net Purchases)

Pembelian bersih mencakup seluruh pengeluaran untuk pengadaan barang dagangan, baik secara tunai maupun kredit. Formula untuk menghitung Pembelian Bersih adalah:

Pembelian Bersih = (Pembelian Kotor + Ongkos Kirim}) - (Retur Pembelian} + Potongan Pembelian)

3. Persediaan Akhir Barang (Ending Inventory)

Persediaan akhir adalah sisa stok barang dagangan yang belum terjual pada akhir periode akuntansi berjalan.

Angka ini didapatkan melalui proses penghitungan fisik barang (stock opname) di gudang.

Biaya yang Tidak Boleh Dimasukkan ke Dalam HPP

Sering kali pebisnis pemula salah mencampurkan seluruh pengeluaran operasional ke dalam kalkulasi HPP. HPP hanya menghitung biaya langsung (direct costs) terkait barang dagangan.

Berikut adalah beberapa komponen biaya yang TIDAK boleh dimasukkan ke dalam perhitungan HPP:

  • Biaya Administrasi & Umum: Gaji staf kantor, biaya sewa gedung kantor non-pabrik, alat tulis kantor (ATK).
  • Biaya Pemasaran & Penjualan: Anggaran iklan online, komisi tim sales, biaya promosi.
  • Biaya Non-Operasional: Bunga pinjaman bank, denda administrasi, atau beban keuangan non-produksi.


Baca Juga: 5 Cara Menghitung Untung Jualan Serta Contoh Penerapannya

Panduan dan Cara Menghitung HPP (Studi Kasus Lengkap)

Agar lebih mudah memahami alur perhitungannya, perhatikan contoh simulasi kasus berikut:
Studi Kasus:

Ibu Ani mengelola bisnis rumah makan "Resto Bu Ani". Pada awal bulan Agustus, data keuangan restoran mencatat:

  • Persediaan awal bahan baku: Rp5.000.000
  • Pembelian kotor bahan baku selama bulan berjalan: Rp8.000.000
  • Biaya ongkos kirim bahan baku: Rp500.000
  • Retur pembelian bahan baku: Rp300.000
  • Potongan/diskon pembelian: Rp200.000
  • Sisa persediaan akhir bahan baku (hasil stock opname): Rp3.000.000


Berikut adalah tahapan cara menghitung HPP milik Resto Bu Ani:

Langkah 1: Hitung Pembelian Bersih


Pembelian Bersih = (Rp8.000.000 + Rp500.000) - (Rp300.000 + Rp200.000)
Pembelian Bersih = Rp8.500.000 - Rp500.000 = Rp8.000.000

Langkah 2: Hitung Total Barang yang Tersedia untuk Dijual

Barang Tersedia untuk Dijual = Persediaan Awal + \Pembelian Bersih
Barang Tersedia untuk Dijual = Rp5.000.000 + Rp8.000.000} = Rp13.000.000

Langkah 3: Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP = Barang Tersedia untuk Dijual - Persediaan Akhir
HPP = Rp13.000.000 - Rp3.000.000 = .000.000
Jadi, total nilai HPP Resto Bu Ani untuk periode bulan berjalan adalah Rp10.000.000.

Cara Menghitung Laba Kotor dari HPP

Setelah nilai HPP diketahui, Anda dapat menghitung Laba Kotor (Gross Profit) usaha. Laba kotor didapatkan dari selisih antara Penjualan Bersih dengan HPP.

Penjualan Bersih = Penjualan Kotor - (Retur Penjualan + Diskon Penjualan)

Laba Kotor = Penjualan Bersih - HPP

Simulasi Laba Kotor Resto Bu Ani:
Jika selama bulan berjalan total Penjualan Bersih Resto Bu Ani mencapai Rp18.000.000, maka perhitungannya:

Laba Kotor = Rp18.000.000} - Rp10.000.000 = Rp8.000.000

Dengan demikian, Resto Bu Ani memperoleh Laba Kotor sebesar Rp8.000.000.

Baca Juga: Laporan Laba Rugi: Fungsi, Komponen, Bentuk, dan Contohnya

Butuh Modal Tambahan untuk Efisiensi HPP? Pakai Pinjaman Usaha Pegadaian

Salah satu strategi terbaik untuk menekan nilai HPP agar marjin keuntungan meningkat adalah dengan membeli persediaan barang dalam jumlah besar (bulk purchasing) langsung dari produsen atau distributor utama untuk mendapatkan potongan harga grosir.

Namun, strategi ini membutuhkan ketersediaan dana tunai atau modal kerja yang cukup. Jika bisnis Anda membutuhkan suntikan dana segar untuk menambah persediaan barang dagangan, Pinjaman Usaha Pegadaian siap menjadi solusi finansial yang tepat.

Jangan biarkan potensi keuntungan bisnis Anda terhambat karena keterbatasan stok barang. Optimalkan kalkulasi HPP usaha Anda dan kembangkan kapasitas bisnis bersama Pegadaian!

Baca Juga: Cara Jualan di TikTok Shop agar Cepat Laku untuk Pemula

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved