Volatilitas: Penyebab, Jenis, dan Strategi Investasinya

Oleh Pegadaian dalam Investasi

11 August 2026
Bagikan :
image detail artikel

Nilai investasi tidak selalu bergerak naik secara stabil. Ada kalanya harga melonjak dalam waktu singkat, tetapi tidak jarang juga mengalami penurunan yang cukup tajam. Kondisi seperti ini dikenal sebagai volatilitas.

Dengan mengenali cara kerja volatilitas, kamu bisa menyusun strategi investasi yang lebih matang. Lantas, apa itu volatilitas dan bagaimana cara menghadapinya? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Pengertian Volatilitas

Volatilitas adalah tingkat perubahan atau fluktuasi harga suatu aset dalam suatu periode tertentu. Makin besar perubahan harga yang terjadi, makin tinggi tingkat volatilitas aset tersebut.

Sebaliknya, jika harga bergerak relatif stabil, tingkat volatilitasnya tergolong rendah. Dalam hal ini, volatilitas dapat terjadi pada berbagai instrumen investasi, seperti saham, obligasi, reksa dana, mata uang, hingga emas.

Sebagai contoh, harga saham yang bergerak dari Rp1.000 menjadi Rp1.300, lalu turun ke Rp900 dalam beberapa hari memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham yang hanya bergerak dari Rp1.000 menjadi Rp1.020.

Perubahan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, sentimen pasar, kebijakan pemerintah, hingga peristiwa global.

Memahami volatilitas dapat membantu kamu mengukur tingkat risiko suatu investasi. Aset dengan volatilitas tinggi biasanya menawarkan peluang keuntungan yang lebih besar, tetapi juga memiliki potensi kerugian yang lebih besar.

Sebaliknya, aset dengan volatilitas rendah cenderung lebih stabil meskipun potensi keuntungannya biasanya tidak sebesar aset yang lebih fluktuatif.

Jenis-Jenis Volatilitas

Volatilitas dapat dilihat melalui data masa lalu, perkiraan pasar, maupun pergerakan harga yang sedang berlangsung. Berikut jenis-jenis volatilitas yang umum digunakan dalam analisis investasi:

1. Volatilitas Historis

Volatilitas historis menunjukkan perubahan harga berdasarkan data yang telah terjadi. Data ini membantu investor melihat seberapa besar harga suatu aset pernah naik atau turun, tetapi tidak menjamin pergerakan serupa akan terjadi lagi.

2. Volatilitas Harga

Volatilitas harga menggambarkan besarnya perubahan harga suatu aset atau komoditas. Semakin lebar jarak perubahannya, semakin tinggi volatilitasnya.

3. Volatilitas Pasar

Volatilitas pasar terjadi ketika banyak aset dalam suatu pasar bergerak dengan cukup besar. Kondisi ini dapat dipicu oleh berita ekonomi, perubahan kebijakan, konflik, atau sentimen investor.

4. Volatilitas Tersirat

Volatilitas tersirat merupakan perkiraan tingkat volatilitas yang diprediksi akan terjadi di masa depan berdasarkan ekspektasi pelaku pasar.

Jenis volatilitas tersirat banyak digunakan dalam perdagangan opsi karena dapat membantu memperkirakan kemungkinan perubahan harga suatu aset pada periode mendatang.

Baca juga: Cara Mencapai Financial Freedom agar Keuangan Lebih Stabil

Penyebab Terjadinya Volatilitas

Perubahan harga muncul karena pasar terus merespons informasi, transaksi, dan harapan para pelaku investasi. Berikut beberapa penyebab utama terjadinya volatilitas:

1. Kondisi Ekonomi

Data inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan suku bunga dapat memengaruhi keputusan investor. Hasil data yang berbeda dari perkiraan sering kali memicu perubahan harga.

2. Kebijakan Pemerintah dan Bank Sentral

Perubahan pajak, aturan perdagangan, anggaran, atau suku bunga dapat memengaruhi prospek usaha dan daya tarik suatu aset.

3. Kinerja Perusahaan

Instrumen seperti saham, perubahan laporan keuangan, pergantian manajemen, peluncuran produk baru, atau penurunan pendapatan perusahaan dapat memengaruhi harga saham.

4. Sentimen Pasar

Rasa takut dan optimisme dapat mendorong banyak investor untuk membeli atau menjual secara bersamaan. Ketika emosi mendominasi keputusan, harga dapat bergerak lebih tajam.

5. Peristiwa Global

Peristiwa internasional seperti konflik geopolitik, pandemi, krisis keuangan, maupun bencana alam dapat berdampak pada pasar keuangan di berbagai negara. Akibatnya, volatilitas meningkat karena investor menyesuaikan strategi investasi mereka.

Mengapa Peluang Profit Dapat Ditentukan oleh Volatilitas?

Volatilitas sering dianggap sebagai risiko. Padahal, di balik fluktuasi harga tersebut terdapat peluang keuntungan yang bisa dimanfaatkan. Berikut beberapa alasan mengapa volatilitas dapat memengaruhi peluang profit:

1. Membuka Peluang Membeli Lebih Rendah

Saat harga aset turun akibat volatilitas, investor memiliki kesempatan untuk membeli pada harga yang lebih murah. Jika harga kembali naik, potensi keuntungan pun semakin besar.

2. Memberikan Peluang Capital Gain

Perubahan harga yang cukup besar memungkinkan investor memperoleh capital gain ketika berhasil membeli pada harga rendah dan menjualnya saat harganya meningkat.

3. Menciptakan Banyak Momentum Investasi

Volatilitas membuat pergerakan harga lebih dinamis sehingga muncul lebih banyak peluang bagi investor untuk menyesuaikan strategi sesuai kondisi pasar.

4. Membantu Menentukan Profil Risiko

Melalui tingkat volatilitas suatu aset, investor dapat memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan investasi dan kemampuan dalam menghadapi risiko.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Volatilitas memang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat dikelola melalui perencanaan yang baik. Berikut strategi investasi yang dapat kamu terapkan saat pasar tidak stabil:

1. Lakukan Diversifikasi Portofolio

Sebarkan dana ke beberapa aset, sektor, atau instrumen agar risiko tidak terkumpul di satu tempat. Diversifikasi tidak menghapus risiko, tetapi membantu mengurangi dampaknya ketika salah satu aset turun.

2. Fokus pada Tujuan Jangka Panjang

Hindari mengubah rencana hanya karena pergerakan harga harian. Selama tujuan dan dasar pemilihan aset tidak berubah, keputusan yang tenang biasanya lebih baik daripada menjual karena panik.

3. Gunakan Metode Dollar Cost Averaging

Dollar cost averaging atau DCA dilakukan dengan menginvestasikan jumlah dana yang sama secara berkala. Cara ini mengurangi ketergantungan pada upaya menebak waktu terbaik untuk membeli dan membantu meratakan harga pembelian.

4. Sesuaikan Aset dengan Profil Risiko

Pilih aset sesuai kemampuanmu dalam menerima penurunan nilai. Hindari risiko tinggi apabila dananya akan digunakan dalam waktu dekat.

5. Siapkan Dana Darurat

Pisahkan dana darurat dari dana investasi agar kamu tidak perlu menjual aset saat harganya turun untuk memenuhi kebutuhan mendadak.

Memahami bahwa volatilitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia investasi akan membantu kamu menyusun strategi perlindungan modal dengan lebih bijak.

Namun, jika kamu lebih mengutamakan stabilitas saat berinvestasi, diversifikasi ke emas bisa menjadi pilihan yang tepat. Melalui Emas Pegadaian, kamu bisa membeli emas dengan harga terjangkau, mulai dari Rp10 ribuan.

Dengan berinvestasi lewat Emas Pegadaian, saldo uang tunai dapat dikonversi menjadi gramasi emas murni 24 karat dengan jaminan fisik 100%.

Jika ingin mengetahui berapa gram emas yang bisa kamu beli, gunakan fitur Simulasi Emas Pegadaian. Untuk membuka rekening, kamu bisa mengakses aplikasi Tring! by Pegadaian atau datang langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat.

Dengan nominal pembelian emas yang terjangkau, kamu dapat mulai mengalokasikan dana secara bertahap sesuai dengan kemampuan.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai investasi emas bersama Pegadaian sekarang karena Pegadaian Selalu Hadir Melayani Sepenuh Hati untuk mendukung setiap langkah investasimu!

Baca juga: 8 Cara Main Saham untuk Pemula, Pahami Cara dan Risikonya!

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved