Obligasi: Pengertian, Jenis, Keuntungan, Risiko & Cara Membeli

Jika sedang mempelajari investasi, kemungkinan besar kamu pernah mendengar istilah obligasi. Instrumen investasi ini sering dipilih oleh investor yang menginginkan pendapatan tetap (fixed income) dengan tingkat risiko yang umumnya lebih rendah dibandingkan saham.
Meski demikian, masih banyak orang yang bertanya, obligasi adalah apa, bagaimana cara kerjanya, dan apakah instrumen ini cocok untuk pemula.
Sederhananya, obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan untuk memperoleh pendanaan dari investor. Sebagai imbalannya, penerbit akan membayar kupon (bunga) secara berkala dan mengembalikan pokok investasi saat jatuh tempo.
Agar lebih memahami cara kerja serta potensi keuntungan dan risikonya, simak pembahasan berikut.
Apa itu Obligasi?
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan kepada investor dalam jangka waktu tertentu. Sebagai pemegang obligasi, investor akan menerima pembayaran kupon secara berkala dan pengembalian pokok investasi ketika obligasi jatuh tempo.
Baca juga: Obligasi Negara: Ini Pengertian, Jenis, dan Keuntungannya
Bagaimana Cara Kerja Obligasi?
Misalnya pemerintah menerbitkan obligasi senilai Rp1 juta dengan kupon tetap 6% per tahun dan tenor 5 tahun.
Jika kamu membeli obligasi tersebut:
- modal investasi Rp1 juta
- kupon diterima Rp60.000 per tahun
- setelah lima tahun modal Rp1 juta dikembalikan
Dengan ilustrasi sederhana, pembaca akan jauh lebih mudah memahami konsep obligasi.
Karakteristik Obligasi
Berikut ini adalah empat karakteristik obligasi yang perlu kamu ketahui:
1. Jangka Waktu
Obligasi memiliki jangka waktu mulai dari satu hingga sepuluh tahun, meskipun umumnya obligasi jatuh tempo di tahun kelima. Investor banyak yang memilih obligasi jangka pendek karena risikonya yang lebih rendah.
2. Jumlah Emisi Obligasi
Jumlah emisi obligasi adalah jumlah dana yang dibutuhkan sebagai dasar untuk meminjam uang dari investor.
Agar investasi obligasi bergerak sesuai dengan fakta, jumlah nominal yang diterbitkan harus diputuskan oleh arus kas, kinerja, dan tujuan bisnis perusahaan.
Contohnya adalah ketika sebuah perusahaan memiliki proyek yang membutuhkan biaya sebesar Rp2 miliar.
Kemudian, perusahaan tersebut menerbitkan obligasi untuk meminta modal dari masyarakat yang membelinya.
Untuk meyakinkan calon investor agar menanamkan uangnya di perusahaan ini, mereka akan menjelaskan arus kas, tujuan kerja, dan kinerja bisnis pada saat perjanjian.
3. Jadwal Pembayaran
Penerbit obligasi diharuskan melakukan pembayaran bunga secara berkala agar sesuai dengan perjanjian. Umumnya, pembayaran bunga dapat dilakukan setiap kuartal, setiap semester, atau setiap triwulan.
4. Suku Bunga Pokok dan Suku Bunga Kupon
Suku bunga pokok adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh penerbit kepada pemegang obligasi pada saat jatuh tempo.
Sementara itu, suku bunga kupon adalah suku bunga yang harus dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi setiap tahun.
Jenis-Jenis Obligasi
Adapun jenis-jenis obligasi adalah sebagai berikut:
1. Obligasi Berdasarkan Penerbit
Jika berdasarkan penerbit, obligasi dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Obligasi Korporasi: Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan, baik BUMN maupun perusahaan swasta yang memiliki jangka waktu satu tahun.
- Obligasi Pemerintah: Surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Umumnya, obligasi ini dikeluarkan dengan kupon tetap (Fixed Rate/FR), kupon variabel (Variable Rate/VR), dan sukuk negara.
- Municipal Bond: Surat utang yang diterbitkan pemerintah daerah untuk mendukung pembangunan fasilitas publik.
2. Obligasi Berdasarkan Nominal
Kamu bisa memilih di antara dua jenis nominal obligasi, seperti:
- Obligasi Konvensional: Obligasi dengan nominal yang sangat besar sekitar Rp1 miliar untuk setiap slotnya.
- Obligasi Ritel: Surat utang yang nominalnya cenderung kecil, yaitu mulai Rp1 juta.
3. Obligasi Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunga
Terdapat empat jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunganya, yaitu:
- Obligasi Kupon: Surat utang yang membayar bunga secara periodik.
- Obligasi Zero Coupon: Surat utang yang tidak memiliki kupon. Investor yang membeli surat jenis ini biasanya akan mendapat keuntungan dari selisih antara harga pembelian asli surat dan harga jual yang didiskon.
- Obligasi Kupon Mengambang: Surat utang yang membayarkan bunga dengan jumlah yang tidak tetap.
- Obligasi Kupon Tetap: Surat utang yang membayarkan bunga dengan jumlah tetap sampai jatuh tempo.
4. Obligasi Berdasarkan Imbal Hasil
Terdapat dua jenis obligasi berdasarkan imbal hasil yang diterima, yaitu:
- Obligasi Syariah: Disebut juga obligasi sukuk, adalah surat utang yang memakai sistem bagi hasil tanpa riba serta dibayarkan secara berkala sampai tanggal jatuh tempo.
- Obligasi Konvensional: Surat utang yang kuponnya dibayarkan secara periodik sampai tanggal jatuh tempo.
Baca juga: Memahami 6 Perbedaan SBN dan Obligasi, Investor Wajib Tahu!
Cara Mendapatkan Keuntungan dari Obligasi
Salah satu alasan banyak investor memilih obligasi adalah karena instrumen ini menawarkan potensi pendapatan yang relatif stabil dibandingkan beberapa instrumen investasi lainnya.
Secara umum, terdapat dua cara utama untuk memperoleh keuntungan dari obligasi, yaitu melalui kupon dan capital gain.
1. Mendapatkan Kupon Obligasi
Kupon adalah imbal hasil atau bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada investor selama masa investasi. Besaran kupon biasanya telah ditentukan sejak awal untuk obligasi dengan kupon tetap (fixed rate), sedangkan pada obligasi kupon mengambang (floating rate), nilainya dapat berubah mengikuti suku bunga acuan.
Pembayaran kupon dilakukan secara berkala, misalnya setiap bulan, tiga bulan, atau enam bulan, tergantung ketentuan masing-masing obligasi. Selama masih memegang obligasi hingga jatuh tempo, investor berhak menerima pembayaran kupon sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
2. Memperoleh Capital Gain
Selain dari kupon, investor juga dapat memperoleh keuntungan melalui capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual obligasi.
Sebagai contoh, kamu membeli obligasi seharga Rp1.000.000. Beberapa waktu kemudian, harga obligasi tersebut naik menjadi Rp1.050.000 di pasar sekunder. Jika obligasi dijual pada harga tersebut, maka kamu memperoleh capital gain sebesar Rp50.000, di luar kupon yang telah diterima sebelumnya.
Namun, perlu diingat bahwa harga obligasi dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar. Oleh karena itu, capital gain tidak selalu dapat diperoleh oleh setiap investor.
3. Pengembalian Pokok Investasi saat Jatuh Tempo
Apabila obligasi disimpan hingga masa jatuh tempo (maturity), penerbit akan mengembalikan nilai pokok investasi kepada pemegang obligasi sesuai nilai nominalnya.
Sebagai ilustrasi, jika kamu membeli obligasi dengan nilai nominal Rp10 juta dan menyimpannya hingga jatuh tempo, maka penerbit akan mengembalikan dana pokok tersebut, di samping kupon yang telah dibayarkan selama masa investasi.
Bagi investor yang menginginkan pendapatan berkala sekaligus menjaga modal investasi hingga jatuh tempo, obligasi dapat menjadi salah satu instrumen yang layak dipertimbangkan.
Risiko Investasi Obligasi yang Perlu Dipahami
Meskipun dikenal sebagai instrumen investasi dengan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan saham, obligasi tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.
Dengan mengetahui berbagai risiko berikut, investor dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak sesuai tujuan dan profil risikonya.
1. Risiko Gagal Bayar (Default Risk)
Risiko gagal bayar terjadi ketika penerbit obligasi tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk membayar kupon maupun mengembalikan pokok investasi pada saat jatuh tempo.
Risiko ini umumnya lebih rendah pada obligasi pemerintah karena pembayaran dijamin oleh negara sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, obligasi korporasi memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda tergantung kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan penerbit.
2. Risiko Perubahan Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Harga obligasi sangat dipengaruhi oleh perubahan suku bunga. Ketika suku bunga pasar naik, harga obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya cenderung turun karena investor beralih ke obligasi baru yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga obligasi di pasar sekunder biasanya akan meningkat.
Bagi investor yang berencana menjual obligasi sebelum jatuh tempo, perubahan suku bunga dapat memengaruhi nilai jual obligasi.
3. Risiko Capital Loss
Capital loss adalah kerugian yang terjadi ketika obligasi dijual dengan harga lebih rendah daripada harga pembeliannya.
Sebagai contoh, jika obligasi dibeli seharga Rp1 juta kemudian dijual seharga Rp950.000, maka investor mengalami capital loss sebesar Rp50.000.
Risiko ini umumnya terjadi apabila investor menjual obligasi sebelum jatuh tempo saat harga pasar sedang turun.
4. Risiko Likuiditas
Tidak semua obligasi memiliki tingkat likuiditas yang sama. Beberapa jenis obligasi mungkin memiliki volume perdagangan yang rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dijual di pasar sekunder.
Akibatnya, investor mungkin harus menjual obligasi dengan harga yang lebih rendah agar segera mendapatkan pembeli.
5. Risiko Inflasi
Inflasi dapat mengurangi nilai riil dari pendapatan yang diterima investor.
Sebagai contoh, apabila obligasi memberikan kupon sebesar 5% per tahun, sementara tingkat inflasi mencapai 6%, maka daya beli dari imbal hasil tersebut sebenarnya mengalami penurunan.
Obligasi menawarkan potensi keuntungan melalui pembayaran kupon secara berkala, peluang memperoleh capital gain, serta pengembalian pokok investasi saat jatuh tempo.
Namun, seperti instrumen investasi lainnya, obligasi juga memiliki risiko, mulai dari risiko gagal bayar, perubahan suku bunga, capital loss, likuiditas, hingga inflasi.
Sebelum berinvestasi, pastikan kamu memahami karakteristik setiap jenis obligasi dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi, jangka waktu, serta profil risiko yang dimiliki.
Dengan begitu, investasi obligasi dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang lebih optimal.
Apabila membutuhkan dana pinjaman saat kondisi tak terduga, seperti berobat ke rumah sakit atau renovasi rumah, kamu bisa menggadaikan obligasi yang kamu miliki.
Caranya adalah dengan mengajukan Gadai Saham dan Obligasi di Pegadaian. Layanan ini menerima gadai surat berharga berupa saham dan obligasi tanpa warkat (scriptless) yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Proses pengajuannya mudah dan bisa dilakukan secara online melalui aplikasi Pegadaian Digital. Jika disetujui, kamu bisa mendapatkan pinjaman mulai dari Rp1 juta hingga Rp20 miliar.
Jangka waktu pembayaran pinjaman fleksibel. Baik individu maupun institusi bisa memanfaatkan layanan Gadai Efek dari Pegadaian.
Mari dapatkan dana pinjaman lewat Gadai Efek di Pegadaian yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca juga: Reksa Dana Obligasi: Cara Kerja, Jenis, dan Tips Memilihnya
Berita dan Artikel Lainnya

Keuangan
Pentingnya Proteksi dalam Keuangan dan Cara Menyiapkannya
Proteksi adalah perlindungan diri terhadap masalah keuangan apabila menemui situasi yang tak terduga. Kenali peran proteksi dan cara menyiapkannya di sini!

Keuangan
DSCR: Fungsi, Interpretasi, Cara Hitung, & Faktor Pengaruh
DSCR adalah metrik kredit untuk mengukur kemampuan arus kas suatu entitas untuk menutup kewajiban utang. Yuk, ketahui fungsi hingga interpretasinya di sini!

Keuangan
6 Cara Mengembalikan Uang yang Salah Transfer, Wajib Tahu!
Cara mengembalikan uang yang salah transfer bisa dilakukan dengan menghubungi bank dan mengirim bukti transfer. Simak penjelasan selengkapnya di sini!

