Apa Itu ESG Perusahaan dan Penerapannya di Indonesia

Oleh Pegadaian dalam Inspirasi

21 June 2026
Bagikan :
image detail artikel

Isu perubahan iklim, tuntutan transparansi, dan meningkatnya kesadaran publik membuat cara perusahaan menjalankan bisnis ikut bergeser. Keberhasilan perusahaan kini dinilai dari keuntungan sekaligus dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, ESG hadir sebagai pendekatan yang membantu perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, tanggung jawab sosial, dan kelestarian lingkungan.

Lebih lanjut, artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu ESG perusahaan hingga contoh implementasinya di Indonesia.

Apa Itu ESG Perusahaan?

ESG adalah konsep yang digunakan untuk menilai bagaimana perusahaan menjalankan bisnis secara bertanggung jawab dari aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Istilah ESG sendiri merupakan singkatan dari Environmental, Social, and Governance.

Dalam praktiknya, ESG menjadi acuan bagi perusahaan untuk menyeimbangkan tujuan bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Artinya, perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampak operasional bisnis terhadap keberlanjutan lingkungan, hak asasi manusia, hingga etika dalam pengambilan keputusan.

Di sisi lain, berbagai standar pelaporan ESG, seperti Sustainability Accounting Standards Board (SASB) dan Global Reporting Initiative (GRI) juga telah dikembangkan untuk membantu perusahaan menyampaikan dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan bisnis secara lebih transparan.

Baca juga: Carbon Neutral: Tujuan & Perbedaannya dengan Net Zero Carbon

Bagaimana Penerapan ESG di Indonesia?

Penerapan ESG di Indonesia didukung oleh berbagai regulasi pemerintah yang mendorong praktik bisnis berkelanjutan.

Beberapa di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang pengesahan Paris Agreement, Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga UU Nomor 7 tahun 2021 dan RUU PPSK tentang carbon tax dan carbon trading.

Di sektor keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong penerapan keuangan berkelanjutan serta pelaporan ESG bagi perusahaan terbuka.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mewajibkan perusahaan tercatat untuk menyampaikan laporan keberlanjutan sebagai bentuk transparansi kepada investor dan publik.

Penerapan ESG di Indonesia pun terus meningkat. Berdasarkan catatan Databoks terkait survei Mandiri Institute terhadap 162 perusahaan terbuka, sebanyak 95% perusahaan menerapkan ESG karena sejalan dengan nilai perusahaan (corporate value).

Selain itu, 91% perusahaan menilai ESG dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan sosial, 86% untuk memenuhi regulasi, 80% untuk menjaga reputasi perusahaan, dan 70% sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Tantangan dalam Implementasi ESG di Indonesia

Meskipun penerapan ESG di Indonesia terus berkembang dengan baik, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Kurangnya pemahaman dan kesiapan perusahaan: banyak perusahaan belum memiliki strategi ESG yang terstruktur karena keterbatasan pengetahuan dan sumber daya untuk menerapkannya secara menyeluruh.
  • Regulasi yang masih berkembang: dukungan kebijakan ESG di Indonesia sudah mulai ada, namun standar dan implementasinya masih dalam tahap penguatan sehingga belum sepenuhnya seragam di semua sektor.
  • Biaya implementasi yang tinggi: penerapan ESG membutuhkan investasi awal, seperti teknologi ramah lingkungan, sistem pengelolaan lingkungan, hingga sertifikasi keberlanjutan yang menjadi tantangan bagi perusahaan kecil dan menengah.


Baca juga: Conflict of Interest: Penyebab dan Upaya untuk Mengatasinya

Contoh Umum Implementasi ESG di Perusahaan

Penerapan apa itu ESG perusahaan mencakup tiga aspek utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Masing-masing aspek memiliki bentuk implementasi yang berbeda namun saling mendukung keberlanjutan perusahaan. Berikut ini beberapa contohnya:

1. Aspek Lingkungan (Environmental)

Fokus utama aspek lingkungan adalah mengurangi dampak operasional terhadap alam dan sumber daya. Beberapa bentuk implementasinya meliputi:

  • Mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penggunaan energi terbarukan, seperti tenaga surya atau biomassa.
  • Menerapkan sistem daur ulang limbah untuk mengurangi sampah dan meningkatkan efisiensi produksi.
  • Mengoptimalkan penggunaan energi dalam proses operasional.
  • Mengurangi jejak karbon melalui transportasi ramah lingkungan.
  • Menggunakan kendaraan listrik untuk operasional perusahaan.
  • Bekerja sama dengan penyedia logistik yang lebih ramah lingkungan.


2. Aspek Sosial (Social)

Aspek sosial berfokus pada hubungan perusahaan dengan karyawan dan masyarakat sekitar. Penerapan aspek ini dapat meningkatkan loyalitas karyawan, memperkuat citra perusahaan, dan menurunkan tingkat turnover. Contoh implementasinya meliputi:

  • Program kesehatan mental bagi karyawan.
  • Pelatihan keterampilan untuk masyarakat sekitar, seperti literasi digital dan kewirausahaan.
  • Peningkatan kesejahteraan dan keselamatan kerja karyawan.
  • Penerapan kebijakan rekrutmen yang adil dan setara.
  • Penerapan lingkungan kerja yang inklusif dan bebas diskriminasi.
  • Penyediaan fasilitas kerja yang ramah bagi penyandang disabilitas.


3. Aspek Governance (Tata Kelola)

Aspek tata kelola menekankan pada transparansi, etika, dan akuntabilitas perusahaan. Tata kelola yang baik akan membantu perusahaan meningkatkan kepercayaan investor, regulator, dan publik serta memperkuat daya saing bisnis dalam jangka panjang.

Beberapa bentuk implementasi dari aspek ini antara lain:

  • Penerapan kebijakan antikorupsi yang ketat.
  • Audit internal secara rutin untuk menjaga integritas perusahaan.
  • Transparansi laporan keuangan dan keberlanjutan.
  • Pembentukan komite ESG atau keberlanjutan di tingkat manajemen.
  • Penerapan standar internasional, seperti OECD atau ISO 37000.
  • Penguatan sistem manajemen risiko dan kepatuhan hukum.


Penerapan ESG di atas menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan kini tidak lagi diukur hanya dari pertumbuhan profitnya saja. Hal ini juga terlihat dari kemampuan menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Semakin baik implementasi ESG di suatu perusahaan, semakin kuat pula tingkat kepercayaan dari masyarakat maupun investor.

Di Pegadaian, komitmen terhadap keberlanjutan diperkuat melalui Roadmap ESG 2025-2029. Roadmap ini menjadi acuan strategis dalam menjalankan agenda keberlanjutan secara lebih sistematis, terukur, dan berkelanjutan.

Adapun fokus utama dari roadmap tersebut mencakup empat hal, yaitu:

  • Integrasi prinsip ESG ke dalam strategi Perusahaan.
  • Penguatan tata kelola dan manajemen risiko ESG.
  • Pengembangan produk dan layanan berbasis keberlanjutan.
  • Peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam penerapan ESG.


Melalui langkah ini, Pegadaian terus memperkuat perannya dalam mendukung transformasi bisnis yang berkelanjutan dan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Selain untuk mendukung kinerja keuangan perusahaan, pendekatan ini juga berguna untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

Baca juga: Mengenal Green Financing dan Implementasinya di Pegadaian

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved