Reorder Point: Manfaat dan Cara Menghitungnya untuk Bisnis

Oleh Pegadaian dalam Wirausaha

30 July 2026
Bagikan :
image detail artikel

Menjaga ketersediaan stok merupakan salah satu aspek penting dalam proses bisnis. Jika jumlah barang terlalu sedikit, peluang penjualan bisa hilang karena stoknya habis.

Sebaliknya, jika stok terlalu banyak, biaya penyimpanan dapat meningkat dan modal terkendala di gudang. Oleh karena itu, setiap bisnis perlu memiliki strategi yang tepat untuk menentukan kapan harus kembali memesan barang.

Cara yang dapat digunakan untuk mengatur persediaan stok adalah dengan menerapkan reorder point. Metode ini membantu bisnis mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan ulang sebelum stok benar-benar habis.

Lantas, apa itu reorder point dan bagaimana cara kerjanya dalam bisnis? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Pengertian Reorder Point

Reorder point adalah batas minimum jumlah persediaan yang menjadi tanda bahwa bisnis harus segera melakukan pemesanan ulang kepada pemasok.

Dengan kata lain, reorder point berfungsi sebagai pengingat agar stok baru datang sebelum persediaan yang ada habis terjual.

Setiap bisnis memiliki nilai reorder point yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat penjualan, waktu pengiriman dari pemasok (lead time), hingga stok cadangan (safety stock).

Sebagai contoh, sebuah toko menjual rata-rata 20 unit produk setiap hari. Sementara itu, pemasok membutuhkan waktu 5 hari untuk mengirimkan barang setelah pesanan dibuat.

Jika toko tidak memiliki perhitungan reorder point, ada risiko stok habis saat menunggu barang datang. Oleh karena itu, penentuan reorder point menjadi bagian penting dalam pengelolaan persediaan.

Waktu Terbaik Melakukan Reorder Point

Penentuan waktu reorder perlu disesuaikan dengan kondisi stok dan pola penjualan masing-masing produk. Berikut beberapa waktu terbaik untuk menerapkan reorder point dalam bisnis:

1. Saat Stok Mendekati Batas Minimum

Pemesanan sebaiknya dilakukan ketika persediaan telah mencapai jumlah minimum yang telah ditetapkan. Dengan begitu, barang baru masih memiliki waktu untuk dikirim sebelum stoknya habis.

2. Menjelang Periode Permintaan Tinggi

Bisnis perlu memesan lebih awal ketika akan memasuki periode dengan permintaan tinggi, seperti musim liburan, tahun ajaran baru, atau momen promosi. Reorder dapat disesuaikan agar persediaan mencukupi lonjakan permintaan.

3. Ketika Waktu Pengiriman Pemasok Cukup Lama

Jika pemasok membutuhkan waktu pengiriman yang lama, pemesanan harus dilakukan lebih awal. Semakin lama lead time, semakin tinggi pula batas reorder point yang dibutuhkan.

4. Setelah Terjadi Perubahan Pola Penjualan

Reorder point perlu dihitung ulang ketika penjualan mengalami kenaikan atau penurunan yang cukup signifikan. Data terbaru membantu bisnis menetapkan batas pemesanan yang sesuai dengan kebutuhan aktual.

Baca juga: Elastisitas Penawaran: Jenis, Manfaat, Rumus, & Contohnya

Potensi Masalah yang Ditimbulkan Jika Tidak Mengenal Reorder Point

Memahami reorder point merupakan langkah penting dalam manajemen bisnis. Jika bisnis tidak menerapkan reorder point, beberapa potensi masalah yang dapat memengaruhi kelancaran operasional bisnis, seperti:

1. Ketersediaan Barang Menipis Seiring Tingginya Permintaan

Permintaan yang tinggi dapat membuat stok berkurang lebih cepat daripada yang diperkirakan. Tanpa batas pemesanan yang jelas, bisnis mungkin terlambat membeli kembali sehingga produk habis sebelum barang baru tiba.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kehilangan penjualan dan menurunkan kepuasan pelanggan. Konsumen yang tidak menemukan produk juga dapat beralih ke bisnis lain.

2. Terjadinya Penumpukan Stok Akibat Rendahnya Permintaan

Pemesanan yang dilakukan tanpa memperhatikan tingkat penjualan dapat menyebabkan barang menumpuk di gudang.

Penumpukan stok meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko kerusakan, terutama pada produk yang memiliki masa kedaluwarsa. Modal bisnis juga tertahan dalam bentuk barang yang belum terjual sehingga arus kas menjadi kurang fleksibel.

Baca juga: Ekspor: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Bedanya dengan Impor

Manfaat Reorder Point

Reorder point membantu bisnis mengambil keputusan pembelian berdasarkan data persediaan dan penjualan. Berikut beberapa manfaat yang dapat kamu peroleh dari penerapannya:

  • Mencegah Kehabisan Stok: Bisnis dapat melakukan pemesanan sebelum barang benar-benar habis. Persediaan tetap tersedia ketika pelanggan ingin membeli.
  • Mengurangi Risiko Stok Berlebih: Perhitungan yang tepat membuat jumlah pemesanan lebih terkendali. Bisnis tidak perlu membeli barang terlalu cepat atau dalam jumlah yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
  • Menjaga Kelancaran Penjualan: Ketersediaan barang yang stabil membantu kegiatan penjualan berjalan lancar. Pelanggan dapat memperoleh produk tanpa harus menunggu terlalu lama.
  • Membantu Pengelolaan Arus Kas: Reorder point membuat pembelian lebih terencana. Dana bisnis dapat dialokasikan secara tepat karena pengadaannya dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata.
  • Mempermudah Evaluasi Persediaan: Batas pemesanan yang jelas memudahkan tim gudang dan tim pembelian dalam memantau stok. Perubahan permintaan juga dapat segera digunakan untuk memperbarui perhitungan.


Komponen Utama dalam Perhitungan Reorder Point

Perhitungan reorder point memiliki tiga komponen utama, yakni:

  • Pertama, rata-rata penjualan atau penggunaan barang per hari dihitung untuk mengetahui seberapa cepat stok berkurang.
  • Kedua, lead time atau waktu tunggu sejak pesanan dibuat hingga barang diterima.
  • Ketiga, safety stock sebagai persediaan tambahan untuk menghadapi kondisi tidak terduga.


Data dari ketiga komponen tersebut diambil dari catatan penjualan dan pengadaan yang aktual. Semakin akurat datanya, semakin tepat pula batas pemesanan kembali yang dihasilkan.

Cara Menghitung Reorder Point

Rumus dasar yang digunakan adalah:

  • Reorder Point = Rata-Rata Penjualan Harian × Lead Time


Jika bisnis menggunakan stok pengaman, rumusnya menjadi:

  • Reorder Point = (Rata-Rata Penjualan Harian × Lead Time) + Safety Stock


Sebagai contoh, sebuah bisnis menjual rata-rata 20 unit produk per hari. Pemasok membutuhkan waktu 5 hari untuk mengirimkan barang, sedangkan safety stock yang disiapkan sebanyak 30 unit. Perhitungannya adalah:

  • Reorder Point = (20 × 5) + 30 = 130 unit


Artinya, bisnis perlu melakukan pemesanan kembali ketika persediaan tersisa 130 unit. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi permintaan selama barang baru tiba.

Perhitungan reorder point perlu didukung oleh data stok yang akurat. Penyusunan stock opname memberikan gambaran riil mengenai barang yang harus segera dipasok kembali demi menjaga siklus penjualan.

Ketika hasil evaluasi gudang menuntut pengadaan barang dalam skala besar secara mendadak, keterbatasan modal kerja tidak boleh menghambat laju bisnis.

Tenang Aja, kamu dapat memanfaatkan layanan Gadai BPKB dari Pegadaian sebagai solusi pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan modal usaha.

Selama masa pinjaman, kendaraan tetap dapat digunakan. Tersedia juga pilihan tenor yang beragam dan dapat disesuaikan dengan kemampuan pembayaran.

Pengajuan Gadai BPKB bisa kamu lakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung di kantor cabang Pegadaian terdekat. Jadi, jangan ragu untuk memenuhi kebutuhan modal agar bisnismu berjalan lancar bersama Pegadaian!

Baca juga: Peluang Usaha: Pengertian, Cara Menemukan, Jenis, dan Contohnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved