Goodwill: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Cara Menghitungnya

Goodwill adalah salah satu istilah penting dalam dunia bisnis dan akuntansi, terutama ketika membahas akuisisi perusahaan.
Meski termasuk aset tak berwujud, goodwill dapat mencerminkan nilai yang sangat besar karena berkaitan dengan reputasi, loyalitas pelanggan, hingga kekuatan merek yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Bagi kamu yang ingin memahami cara kerja akuisisi atau menilai nilai sebuah bisnis, memahami goodwill menjadi langkah penting.
Simak penjelasan berikut untuk lebih memahami pengertian, jenis, manfaat, faktor yang memengaruhi, hingga cara menghitung goodwill dengan mudah.
Apa Itu Goodwill?
Goodwill adalah aset tak berwujud yang muncul apabila harga pembelian suatu perusahaan lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih yang dimilikinya, yaitu total aset setelah dikurangi kewajiban.
Selisih tersebut mencerminkan nilai reputasi, loyalitas pelanggan, kekuatan merek, kualitas manajemen, hingga hubungan yang baik dengan mitra bisnis.
Sebagai contoh, suatu restoran terkenal dibeli dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada nilai bangunan, peralatan, dan aset lainnya.
Selisih harga tersebut merupakan goodwill karena pembeli juga menghargai nama besar dan pelanggan setia yang dimiliki bisnis tersebut.
Goodwill tidak dapat diperjualbelikan secara terpisah dari perusahaan. Nilai ini umumnya hanya muncul dalam transaksi akuisisi atau penggabungan usaha, lalu dicatat sebagai aset tak berwujud dalam laporan keuangan.
Baca juga: Aset: Definisi, Karakteristik, dan Macamnya
Jenis-Jenis Goodwill
Pada dasarnya, goodwill dibedakan menjadi dua jenis, yaitu goodwill akuntansi dan goodwill ekonomi. Berikut penjelasannya:
1. Goodwill Akuntansi
Goodwill akuntansi adalah komponen yang dicatat dalam laporan keuangan ketika terjadi akuisisi perusahaan.
Nilainya dihitung berdasarkan selisih antara harga pembelian perusahaan dan nilai aset bersih yang dimiliki perusahaan tersebut.
Pencatatan goodwill ini mengikuti standar akuntansi yang berlaku sehingga menjadi bagian dari aset perusahaan setelah proses akuisisi selesai.
2. Goodwill Ekonomi
Berbeda dengan goodwill akuntansi, goodwill ekonomi tidak selalu berkaitan dengan proses pembelian perusahaan. Nilainya lebih mencerminkan prospek bisnis di masa depan.
Contohnya adalah kualitas sumber daya manusia, loyalitas pelanggan, inovasi, hingga kekuatan merek yang mampu memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan.
Manfaat Goodwill
Keberadaan goodwill tentu memberikan sejumlah manfaat bagi perkembangan bisnis. Berikut beberapa manfaat utamanya:
1. Daya Saing Lebih Kuat
Goodwill dapat membantu perusahaan memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan kompetitornya. Reputasi yang baik dan kepuasan pelanggan membuat bisnis lebih mudah mempertahankan posisinya di pasar.
2. Meningkatkan Reputasi dan Kepercayaan
Nilai goodwill juga mencerminkan tingkat kepercayaan pelanggan, investor, maupun mitra usaha. Semakin baik citra perusahaan, semakin besar peluang untuk memperoleh pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama.
3. Menambah Nilai Aset Jangka Panjang
Sebagai aset tak berwujud, goodwill memberikan nilai ekonomi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Loyalitas pelanggan dan kekuatan merek dapat menjadi aset yang sangat berharga dan sulit ditiru oleh pesaing.
Selain itu, perusahaan dengan goodwill tinggi biasanya lebih menarik di mata investor karena dinilai memiliki prospek bisnis yang lebih baik.
4. Mempermudah Proses Akuisisi
Dalam transaksi akuisisi, goodwill menjadi salah satu komponen yang mencerminkan nilai ekonomi perusahaan di luar aset yang dapat diidentifikasi. Semakin tinggi goodwill, semakin besar pula potensi bisnis yang dimiliki perusahaan tersebut.
5. Memberikan Fokus pada Aset yang Sulit Diukur
Goodwill membantu memberikan nilai pada aset yang tidak bisa dihitung secara langsung, seperti pengalaman karyawan, budaya perusahaan, hingga hubungan baik dengan pelanggan.
6. Berpotensi Meningkatkan Pendapatan
Perusahaan yang memiliki goodwill positif biasanya mampu menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi karena dipercaya oleh konsumen dan memiliki basis pelanggan yang loyal.
Baca juga: Aset Tidak Lancar: Definisi, Jenis, Hingga Contohnya
Faktor yang Memengaruhi Goodwill
Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi besarnya goodwill yang dihasilkan dalam proses akuisisi. Berikut di antaranya:
- Reputasi dan kredibilitas merek.
- Hubungan yang kuat dengan pelanggan.
- Efisiensi serta kualitas manajemen.
- Kualitas produk atau layanan.
- Lokasi usaha yang strategis.
- Kondisi pasar dan keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing.
Semakin baik faktor-faktor tersebut, semakin besar pula kemungkinan perusahaan memiliki goodwill yang tinggi.
Cara Menghitung Goodwill
Goodwill adalah selisih antara harga akuisisi perusahaan dan nilai aset bersih perusahaan yang diakuisisi. Rumusnya adalah sebagai berikut:
Goodwill = Harga akuisisi − (Total aset − Total kewajiban)
Harga akuisisi merupakan nilai yang dibayarkan oleh perusahaan pembeli. Sementara itu, aset bersih diperoleh dengan mengurangkan seluruh kewajiban perusahaan dari total aset.
Sebagai contoh, perusahaan A membeli perusahaan B seharga Rp4 miliar. Perusahaan B memiliki total aset sebesar Rp3,1 miliar dan total kewajiban sebesar Rp900 juta. Berikut perhitungannya:
Goodwill = Rp4 miliar − (Rp3,1 miliar − Rp900 juta)
= Rp4 miliar − Rp2,2 miliar
= Rp1,8 miliar
Artinya, nilai goodwill yang dicatat sebagai aset tak berwujud adalah Rp1,8 miliar. Nilai tersebut kemudian akan dievaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah terjadi penurunan nilai.
Itulah hal-hal yang perlu diketahui tentang goodwill. Membangun goodwill yang kuat membutuhkan waktu, konsistensi, dan pengelolaan bisnis yang baik. Agar bisnis terus berkembang, dukungan modal yang memadai juga menjadi faktor penting.
Jika usaha membutuhkan tambahan modal tanpa mengganggu operasional, Gadai BPKB Pegadaian dapat menjadi solusi.
Pembiayaan ini menawarkan pinjaman modal usaha dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor. Selama masa kredit, kendaraan tetap dapat digunakan untuk kepentingan pribadi maupun bisnis.
Gadai BPKB Pegadaian menawarkan skema pembayaran yang fleksibel serta pilihan tenor yang beragam sesuai kebutuhan.
Persyaratan umum untuk mengajukan Gadai BPKB meliputi WNI yang memiliki e-KTP dan NPWP, berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah dan maksimal 75 tahun, serta berdomisili tetap dan memiliki usaha yang tidak dilarang oleh pemerintah.
Sementara persyaratan khususnya adalah usaha telah berjalan minimal satu tahun dan lokasi usaha maksimal 15 km atau sekitar satu jam perjalanan dari outlet Pegadaian, serta memiliki dokumen usaha, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB).
Pengajuan dilakukan melalui kantor cabang Pegadaian, kemudian petugas melakukan verifikasi dan survei terhadap usaha tersebut. Setelah pinjaman disetujui, dana akan dicairkan kepada nasabah.
Selama masa kredit, Pegadaian juga memberikan pendampingan agar usaha dapat berkembang secara optimal.
Jadi, jika membutuhkan tambahan modal usaha, langsung ajukan permohonan pinjaman ke kantor cabang Pegadaian terdekat!
Baca juga: Aset Likuid: Pengertian, Contoh, & Bedanya dengan Nonlikuid
Berita dan Artikel Lainnya

Wirausaha
Target Pasar: Arti, Tujuan, Contoh, & Cara Menentukannya
Target pasar adalah orang-orang yang menjadi tujuan utama dari suatu produk atau layanan. Yuk, simak tujuan, contoh, dan cara menentukannya di artikel ini!

Wirausaha
5 Tips Jitu Membuka Toko Roti untuk Pemula
Membuka toko roti dan kue merupakan bisnis yang menjanjikan saat ini. Sebagai pemula di dunia usaha roti dan kue, ada beberapa kiat yang harus diperhatikan sehingga bisnis yang dijalankan bisa berjalan stabil dan meraih keuntungan yang diinginkan.

Wirausaha
5 Usaha Kuliner yang Menjanjikan Dijamin Laku
Temukan 5 jenis usaha kuliner yang menjanjikan dan siap Anda mulai. Temukan peluang bisnis kuliner yang laku di pasaran.

