Sunk Cost Fallacy: Penyebab dan Cara Menghindarinya

Sunk cost fallacy adalah kesalahan dalam berpikir ketika seseorang tetap melanjutkan keputusan karena sudah mengeluarkan usaha, waktu, dan biaya sebelumnya, meski keputusan tersebut tidak lagi menguntungkan.
Pola pikir ini membuat seseorang lebih berfokus pada pengorbanan di masa lalu daripada manfaat dan risiko dari keputusan selanjutnya.
Untuk menghindarinya, penting untuk memahami penyebab dan contohnya agar pengambilan keputusan menjadi lebih bijak. Yuk, simak dalam artikel ini.
Apa Itu Sunk Cost Fallacy?
Sebelum membahas sunk cost fallacy, kamu perlu lebih dulu mengenal istilah sunk cost. Sunk cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat diperoleh kembali, terlepas dari keputusan yang diambil selanjutnya. Biaya ini dapat berupa uang, waktu, maupun tenaga.
Sementara itu, sunk cost fallacy adalah bias kognitif yang muncul ketika seseorang menjadikan biaya tersebut sebagai alasan untuk terus melanjutkan keputusan yang kurang menguntungkan.
Dalam konteks keuangan, sunk cost fallacy dapat memengaruhi keputusan investasi, pengeluaran sehari-hari, hingga pengelolaan bisnis.
Seseorang bisa terus mengeluarkan uang untuk mempertahankan keputusan yang diambil sebelumnya, meskipun pilihan tersebut berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Mengapa Sunk Cost Fallacy Dapat Terjadi?
Sunk cost fallacy dapat muncul ketika emosi dan keinginan untuk membenarkan keputusan masa lalu memengaruhi pertimbangan saat ini. Berikut ini beberapa faktor psikologis yang mendasarinya:
1. Loss Aversion
Loss aversion adalah kecenderungan untuk merasa lebih berat saat mengalami kerugian dibanding merasa senang ketika memperoleh keuntungan dengan nilai yang sama.
Dalam investasi, hal ini membuat seseorang enggan menjual aset yang merugi karena berharap harganya kembali naik di kemudian hari.
2. Disonansi Kognitif
Disonansi kognitif adalah ketidaknyamanan mental akibat pertentangan antara keyakinan, sikap, nilai, dan tindakan. Misalnya, investor tetap meyakini saham pilihannya berpotensi naik meskipun kinerjanya terus memburuk.
3. Keterlibatan Ego
Keinginan untuk mempertahankan citra diri sebagai pengambil keputusan yang baik juga dapat membuat seseorang sulit mengakui kesalahannya.
Akibatnya, seseorang lebih memilih bertahan pada investasi atau keputusan bisnis yang kurang menguntungkan.
4. Bias Komitmen
Bias komitmen (commitment bias) adalah kecenderungan untuk tetap berpegang pada keputusan sebelumnya meskipun terdapat bukti bahwa pilihan tersebut perlu dievaluasi.
Seseorang bisa terus menambah modal pada bisnis yang merugi karena merasa sudah terlalu banyak berinvestasi.
Baca juga: Biaya Operasional: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitung
Contoh Sunk Cost Fallacy dalam Keuangan dan Investasi
Sunk cost fallacy dapat memengaruhi keputusan keuangan pribadi maupun bisnis. Berikut beberapa contoh yang sering terjadi:
1. Mempertahankan Proyek Bisnis yang Merugi
Sebuah perusahaan tetap mengalokasikan anggaran untuk proyek yang tidak menunjukkan perkembangan positif.
Keputusan ini diambil karena perusahaan sudah mengeluarkan dana dalam jumlah besar dan berharap investasi tersebut dapat menghasilkan keuntungan.
Padahal, tambahan biaya justru berpotensi memperbesar kerugian apabila proyek tidak lagi layak untuk dilanjutkan.
2. Menumpuk Stok Barang yang Sulit Terjual
Pelaku usaha ritel membeli barang dalam jumlah besar karena memperkirakan permintaan pasar mengalami peningkatan.
Setelah barang tiba, ternyata minat konsumen jauh lebih rendah dari perkiraan sehingga stok akhirnya justru menumpuk di gudang.
Alih-alih mengevaluasi strategi penjualan atau menyesuaikan harga, pemilik usaha justru tetap mempertahankan stok karena tidak ingin merugi dari modal yang sudah dikeluarkan.
3. Enggan Menjual Investasi yang Terus Merugi
Contoh lain dari sunk cost fallacy adalah ketika investor tetap mempertahankan saham yang kinerjanya memburuk karena telah membelinya dengan harga tinggi.
Investor berharap harga saham kembali ke level pembelian agar bisa menjualnya tanpa mengalami kerugian.
Jika keputusan tersebut hanya didasari keinginan untuk balik modal, investor berisiko mengabaikan kondisi fundamental perusahaan dan peluang investasi lain.
Akibatnya, sisa dana tetap terikat pada aset yang kurang menjanjikan dan investor kehilangan kesempatan untuk mengalihkan dana ke instrumen yang lebih sesuai dengan tujuan keuangan.
Baca juga: COGS: Pahami Komponen, Rumus, dan Cara Menghitungnya
Cara Menghindari Sunk Cost Fallacy dalam Keuangan
Agar tidak terjebak dalam sunk cost fallacy, kamu perlu mengevaluasi keputusan keuangan secara objektif dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi finansial ke depan. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
1. Fokus pada Manfaat atau Keuntungan di Masa Mendatang
Saat mengevaluasi suatu keputusan, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Jika belum mengeluarkan uang sebelumnya, apakah saya tetap akan memilih opsi ini?”
Pertanyaan tersebut dapat membantu kamu dalam menilai apakah keputusan yang diambil masih layak dilanjutkan tanpa terpengaruh keputusan atau pengeluaran di masa lalu.
2. Pisahkan Emosi dari Pertimbangan Finansial
Hindari mengambil keputusan hanya karena merasa sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan atau enggan mengakui kesalahan.
Sebaiknya, gunakan data, catatan transaksi, dan analisis risiko sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
3. Tetapkan Batas Kerugian Sejak Awal
Sebelum berinvestasi atau menjalankan bisnis, tentukan batas risiko dan kriteria untuk mengevaluasi keputusan.
Misalnya, dalam investasi saham, kamu dapat menentukan batas cut loss sesuai strategi dan profil risiko agar kerugian tidak terus bertambah tanpa pertimbangan yang matang.
4. Evaluasi Keputusan dan Pertimbangkan Alternatif
Selanjutnya, lakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah suatu investasi atau proyek masih sesuai dengan tujuan awal.
Kamu bisa mempertimbangkan opportunity cost, yaitu manfaat atau keuntungan yang mungkin diperoleh ketika memilih pilihan lain.
Dengan begitu, kamu dapat menentukan apakah sumber daya yang tersedia sebaiknya tetap digunakan atau dialihkan ke alternatif yang lebih menjanjikan.
Kelola Keuangan dengan Tujuan yang Jelas Bersama Pegadaian
Memahami sunk cost fallacy adalah langkah awal untuk mengenali bias yang dapat memengaruhi keputusan keuangan.
Pengeluaran masa lalu memang tidak bisa dipulihkan, tetapi kamu tetap dapat menentukan langkah berikutnya dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemampuan finansial.
Selain mengevaluasi pengeluaran, kamu juga bisa mulai menyusun rencana keuangan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan, termasuk merencanakan kepemilikan aset emas secara bertahap melalui Cicil Emas Pegadaian.
Dengan layanan Cicil Emas, kamu dapat membeli emas dengan pembayaran secara angsuran. Tersedia pilihan Cicil Emas Personal, Kolektif, dan Arisan dengan ketentuan uang muka serta jangka waktu yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Pengajuan Cicil Emas juga bisa dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau kantor cabang Pegadaian terdekat.
Sebelum mengajukan cicilan, pastikan jumlah emas dan jangka waktu pembayaran sesuai dengan kemampuan finansialmu agar tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Untuk memudahkan perkiraannya, kamu bisa menggunakan fitur Simulasi Cicil Emas.
Yuk, rencanakan kepemilikan emas melalui Cicil Emas Pegadaian dengan perhitungan yang matang agar sejalan dengan tujuan keuanganmu!
Baca juga: Cost Benefit Analysis: Arti, Cara Hitung, dan Manfaatnya
Berita dan Artikel Lainnya

Investasi
Apa Saja Jenis Investasi yang Menguntungkan untuk Mahasiswa?
Pentingkah berinvestasi sejak dini? Apa saja jenis investasi yang menguntungkan bagi mahasiswa? Simak selengkapnya di sini!

Investasi
13 Tips Membeli Rumah Pertama bagi Milenial, Yuk Catat!
Ingin punya rumah sendiri? Simak tips membeli rumah pertama bagi milenial di artikel ini agar tidak salah menentukan anggaran dan lokasi.

Investasi
Tabungan: Arti, Jenis, Manfaat, & Seberapa Penting Perannya
Tabungan adalah simpanan uang yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan tertentu. Mari cari tahu manfaat dan pentingnya memiliki tabungan di sini.

