Flexing Bukan Sekadar Pamer, Pahami Penyebab dan Dampaknya!

Oleh Pegadaian dalam Inspirasi

26 August 2026
Bagikan :
image detail artikel

Di era media sosial, flexing adalah istilah yang semakin sering terdengar karena banyak orang membagikan gaya hidup, barang mewah, hingga pencapaian pribadi di internet.

Namun, apakah semua unggahan tentang cerita kesuksesan termasuk flexing? Yuk, pahami arti, penyebab, tujuan, dampak, hingga cara menyikapinya agar kamu tidak mudah terpengaruh!

Apa Itu Flexing?

Dikutip dari Urban Dictionary, flexing adalah tindakan menyombongkan diri tentang uang, barang mahal, atau pencapaian tertentu.

Istilah flexing lebih dikenal sebagai perilaku pamer kepada orang lain. Misalnya, seseorang mengunggah foto jam tangan mewah atau kendaraan baru di media sosial.

Namun, tidak semua orang yang membagikan pengalaman atau barang yang dimilikinya otomatis sedang flexing. Perbedaan utamanya terletak pada niat.

Orang yang sekadar berbagi pengalaman biasanya hanya ingin bercerita tanpa membandingkan dirinya dengan orang lain.

Sementara itu, orang yang melakukan flexing cenderung ingin menunjukkan keunggulannya demi mendapatkan perhatian atau pengakuan. Perilaku ini juga berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dari orang lain.

Fenomena flexing cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Contohnya antara lain:

  • Mengunggah koleksi gadget terbaru untuk menunjukkan status.
  • Memamerkan liburan mewah secara berlebihan.
  • Menampilkan barang-barang bermerek sebagai simbol kesuksesan di hadapan orang lain.
  • Menampilkan isi dompet atau saldo rekening untuk menarik perhatian.


Penyebab Flexing

Ada berbagai faktor yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan flexing. Berikut beberapa penyebab yang paling umum:

1. Mengalami Tekanan Sosial

Melihat gaya hidup orang lain di media sosial sering kali menimbulkan tekanan untuk terlihat sama suksesnya. Akibatnya, seseorang terdorong untuk membangun citra yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

2. Adanya Dukungan Finansial

Sebagian orang memang memiliki kemampuan finansial yang cukup sehingga mudah membeli berbagai barang mewah. Hal ini membuat mereka lebih terdorong untuk memamerkan gaya hidupnya kepada orang lain.

3. Memiliki Rasa Insecure

Perilaku flexing dapat dipengaruhi oleh rasa tidak percaya diri atau insecurity. Ini membuat seseorang merasa perlu menunjukkan sesuatu yang dianggap lebih baik agar diterima di lingkungan tersebut.

4. Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Orang yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain biasanya lebih mudah merasa dirinya kurang dari orang lain.

Untuk mengatasi perasaan tersebut, mereka berusaha menampilkan citra diri sebagai sosok yang lebih sukses melalui flexing.

Baca juga: Jenis Mahar Pernikahan Emas, Mau yang Mewah atau Fungsional?

Tujuan di Balik Perilaku Flexing

Tidak semua orang melakukan flexing dengan alasan yang sama. Berikut beberapa tujuan yang sering melatarbelakanginya:

  • Membangun personal branding dan citra diri: Bagi influencer atau figur publik, menunjukkan gaya hidup tertentu dapat menjadi strategi untuk menarik kerja sama sekaligus meningkatkan nilai komersial.
  • Memperoleh validasi dari orang lain: Pujian, komentar positif, atau banyaknya likes di media sosial sering dianggap sebagai bentuk pengakuan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri.
  • Meningkatkan status sosial: Dengan memamerkan barang mewah atau gaya hidup tertentu, seseorang berharap dipandang lebih sukses dan mapan oleh orang lain.


Akibat Tindakan Flexing

Baik bagi pelaku maupun orang yang melihatnya, flexing dapat memberikan pengaruh yang kurang baik. Berikut beberapa di antaranya:

  • Rentan mengalami stres: Orang yang flexing merasa harus terus mempertahankan citra mewah yang telah dibangun sehingga dapat memicu tekanan hingga kelelahan mental.
  • Merasa tidak pernah cukup: Orang yang sering melihat kemewahan di media sosial dapat merasa hidupnya tertinggal sehingga muncul rasa minder, tidak percaya diri, bahkan depresi.
  • Merasa iri terhadap orang lain: Keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian membuat mereka sulit merasa puas saat melihat orang lain lebih sukses.
  • Menimbulkan salah persepsi tentang kesuksesan: Banyak orang menganggap kebahagiaan hanya diukur dari kekayaan dan kemewahan, padahal anggapan tersebut tidak selalu benar.
  • Memicu isolasi diri: Saat seseorang sudah tidak mampu lagi mempertahankan citra yang telah dibangunnya, rasa malu akan muncul hingga akhirnya ia memilih untuk menjauh dari lingkungan sosialnya.


Cara Menyikapi Flexing

Kamu tidak harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain di media sosial, termasuk soal flexing. Ada beberapa cara sederhana agar tidak mudah terpengaruh, seperti:

1. Tidak Perlu Dihiraukan

Jika ada teman atau rekan kerja yang gemar flexing, cobalah untuk tidak terlalu memedulikannya. Lebih baik kamu fokus pada tujuan hidupmu sendiri tanpa terus membandingkan pencapaianmu dengan orang lain.

Perlu diingat bahwa media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.

2. Bersyukur dan Jaga Rasa Percaya Diri

Wajar jika sesekali merasa minder saat melihat orang lain memiliki sesuatu yang belum kamu miliki. Namun, jangan biarkan perasaan tersebut mengurangi rasa syukur dan kepercayaan dirimu.

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada mengejar pengakuan sesaat, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan dan membangun kondisi keuangan yang sehat.

Baca juga: 10 Jam Termahal di Dunia, Mulai Graff Hingga Patek Philippe!

Bangun Masa Depan Finansial dengan Emas Pegadaian

Secara umum, flexing adalah perilaku yang hanya memberikan kepuasan sementara karena bergantung pada penilaian orang lain.

Daripada menghabiskan uang demi terlihat sukses di media sosial, akan lebih bermanfaat jika kamu mulai membangun aset yang bernilai untuk masa depan.

#TenangSaja, kamu bisa memulainya melalui Emas Pegadaian yang praktis dan dapat diakses mulai dari nominal yang terjangkau.

Layanan ini memiliki berbagai keunggulan yang memudahkan siapa saja untuk mulai berinvestasi, yaitu:

  • Saldo emas yang dimiliki diasuransikan.
  • Pembelian dapat dimulai dari Rp10 ribuan.
  • Bebas biaya pembukaan rekening.
  • Metode pembayarannya fleksibel.
  • Saldo emas juga dapat ditransfer melalui aplikasi.


Jika harga emas naik, saldo emas kamu tetap mengikuti nilai pasar. Misalnya, kamu menabung emas Rp20.000 per hari.

Dengan asumsi harga emas Rp2.603.000 per gram pada 4 Agustus 2026, dalam 1 bulan total tabungan kamu adalah Rp600.000 atau sekitar 0,23 gram.

Lalu, jika kamu menabung Rp20.000 per hari selama 1 tahun, total tabungan yang dimiliki adalah Rp7.300.000 atau estimasi emas yang diperoleh sekitar 2,8 gram.

Namun, harap untuk diingat bahwa hperitungan tersebut belum termasuk fluktuasi atau perubahan harga emas.
Kamu juga bisa mengetahui berapa gram emas yang didapatkan dengan menggunakan fitur Simulasi Tabungan Emas.

Untuk membuka Emas Pegadaian, cara paling mudah adalah melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Namun, jika lebih nyaman melakukan transaksi secara langsung, kamu juga bisa datang ke kantor cabang Pegadaian terdekat.

Jadi, daripada menghabiskan uang demi mengejar pengakuan orang lain, mulailah membangun nilai kekayaan yang sesungguhnya bersama Emas Pegadaian.

Baca juga: Daftar Harga Cincin Termahal di Dunia, Mewah & Memukau!

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved