Apakah Menabung Emas Bisa Mengalahkan Inflasi? Cek Faktanya

Ketika harga kebutuhan terus meningkat akibat inflasi, emas kerap menjadi pilihan aset untuk menjaga nilai kekayaan. Lantas, apakah menabung emas bisa mengalahkan inflasi?
Emas banyak dipertimbangkan karena memiliki karakteristik yang berbeda dari uang tunai dan dapat membantu menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
Meski demikian, harga emas tetap dapat mengalami kenaikan dan penurunan sehingga tidak bisa dianggap selalu menguntungkan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami alasan emas kerap digunakan untuk menghadapi risiko inflasi sebelum mulai menabung.
Mari simak artikel ini untuk mengetahui apakah menabung emas bisa mengalahkan inflasi, serta tips memilih jenis emas yang cocok untuk investasi.
Apakah Menabung Emas Bisa Mengalahkan Inflasi?
Secara umum, emas dapat menjadi salah satu aset yang membantu menghadapi dampak inflasi. Berikut beberapa karakteristik yang membuat investor mempertimbangkan emas untuk menjaga nilai kekayaan saat daya beli uang menurun:
1. Memiliki Nilai Intrinsik yang Diakui Global
Emas mempunyai karakteristik yang membuatnya tetap bernilai tanpa bergantung pada penerbit, seperti mata uang.
Kelangkaan, ketahanan fisik, dan kegunaannya dalam berbagai kebutuhan membuat logam mulia ini memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Penggunaan emas juga telah berlangsung sangat lama dalam perdagangan dan penyimpanan aset. Karena diterima di banyak pasar, emas kemudian dikenal sebagai salah satu aset yang dapat dicari saat kondisi ekonomi atau pasar keuangan tidak menentu.
2. Stabilitas Nilai dalam Jangka Panjang
Emas sering dicari ketika pasar keuangan mengalami gejolak atau nilai tukar melemah. Dalam portofolio, emas dapat berperan sebagai penyeimbang ketika aset berisiko, seperti saham, mengalami volatilitas tinggi.
Namun, stabil bukan berarti harga emas selalu naik. Dalam jangka pendek, nilainya tetap dapat terkoreksi.
Kendati demikian, pergerakan historis dalam jangka panjang menunjukkan kecenderungan peningkatan. Termasuk di Indonesia, di mana harga emas juga mengalami beberapa fase kenaikan dan penurunan.
Sebagai contoh, setelah sempat berada di sekitar Rp600 ribu per gram pada awal 2013 dan terkoreksi menjadi sekitar Rp530 ribu per gram pada akhir 2013, harganya kembali meningkat hingga sekitar Rp1 juta per gram pada 2020.
Kenaikan harga emas berlanjut pada tahun-tahun berikutnya dan mencapai sekitar Rp1,52 juta per gram pada akhir 2024.
Tren tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan, meskipun emas tetap memiliki periode ketika harganya bergerak turun.
3. Pasokan Terbatas dan Tidak Dapat Dicetak
Jumlah emas di dunia tidak bisa bertambah dengan cepat karena untuk memperoleh emas baru dibutuhkan kegiatan eksplorasi dan penambangan yang membutuhkan sumber daya besar.
Proses tersebut juga tidak dapat dilakukan secepat penambahan jumlah uang yang beredar. Karakteristik ini membuat emas memiliki kelangkaan alami.
Ketika daya beli mata uang mengalami tekanan, keberadaan aset dengan jumlah terbatas dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya menjaga nilai kekayaan.
4. Permintaan Melonjak Ketika Inflasi Tinggi
Kenaikan inflasi dapat mengubah cara investor mengelola asetnya. Ketika biaya hidup meningkat dan daya beli melemah, sebagian investor mulai mempertimbangkan emas sebagai salah satu aset untuk menjaga nilai kekayaan.
Perubahan minat tersebut dapat meningkatkan aktivitas pembelian emas dan memengaruhi harganya. Meski begitu, kenaikan inflasi bukan satu-satunya penentu karena harga emas juga dipengaruhi oleh suku bunga, nilai tukar, kondisi ekonomi global, serta sentimen pasar.
Maka dari itu, emas sebaiknya tidak dianggap sebagai aset yang otomatis naik setiap kali terjadi inflasi. Kamu perlu melihatnya sebagai salah satu bagian dari strategi diversifikasi dengan mempertimbangkan tujuan dan jangka waktu investasi.
Baca juga: Prediksi Inflasi 2026, Apa yang Harus Diwaspadai & Dilakukan?
Jenis Emas yang Cocok Ketika Inflasi Melanda
Tidak semua bentuk emas memiliki karakteristik yang sama. Pilihan terbaik disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dana, kemudahan transaksi, serta tujuan memiliki emas. Berikut beberapa yang bisa dipertimbangkan:
1. Emas Fisik
Emas fisik, seperti batangan, dapat menjadi pilihan bagi kamu yang ingin memiliki emas secara langsung. Kepemilikannya tidak bergantung pada pihak lain, selama emas disimpan dengan aman dan keasliannya terjamin.
Batangan umumnya tersedia dalam berbagai ukuran, sedangkan koin dapat menawarkan nilai tambahan dari desain atau karakter koleksinya. Perhatikan kadar, keaslian, harga beli, dan selisih harga jual.
2. Emas Digital
Emas digital memungkinkan kamu membeli emas berdasarkan gramasi tanpa harus menyimpan kepingan fisik secara langsung.
Cara ini praktis karena pembelian dapat dilakukan secara bertahap dengan nominal yang disesuaikan dengan kemampuan.
Sebelum memilihnya, pastikan penyedia layanan memiliki legalitas serta mekanisme penyimpanan emas yang jelas.
Selain itu, kemudahan transaksi juga perlu diimbangi dengan pemahaman tentang biaya dan ketentuan yang berlaku.
3. Emas Perhiasan
Perhiasan emas, seperti cincin, gelang, dan kalung, dapat digunakan sekaligus menjadi bentuk kepemilikan emas. Namun, terdapat biaya pembuatan dan kadar emas yang perlu diperhatikan saat membelinya.
Oleh karena itu, perhiasan lebih tepat dipilih jika kamu juga mempertimbangkan fungsi penggunaannya, bukan hanya potensinya sebagai investasi.
4. Emas Koin
Koin emas mudah disimpan dan tersedia dalam berbagai ukuran serta desain. Selain kandungan emas, beberapa koin juga dapat memiliki nilai tambahan karena kelangkaan atau karakter koleksinya.
Pastikan koin berasal dari penerbit tepercaya serta memiliki informasi mengenai kadar dan keasliannya sebelum membelinya.
5. Gold ETFs dan Gold Mutual Funds
ETF emas dan reksa dana berbasis emas memberikan eksposur terhadap aset terkait emas tanpa mengharuskan kamu menyimpan logam mulia secara langsung.
Instrumen ini dapat dipertimbangkan jika kamu lebih mengutamakan kemudahan transaksi dan likuiditas.
Namun, mekanisme, biaya, dan risikonya berbeda dengan kepemilikan emas fisik sehingga perlu dipahami terlebih dahulu.
Baca juga: Jenis Emas yang Bagus untuk Investasi & Tips Memilihnya
Emas Pegadaian: Pilihan Menabung Emas Antiinflasi
Jika ingin menabung emas untuk menghadapi risiko inflasi, Emas Pegadaian dapat menjadi salah satu pilihan.
Meskipun saldonya tercatat secara digital dalam gramasi dan diasuransikan, emas tersebut tetap memiliki jaminan fisik 1:1 dengan kemurnian 24 karat. Adapun beberapa keunggulan yang ditawarkan antara lain:
- Pembelian mulai Rp10 ribuan.
- Saldo dapat ditransfer melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.
- Pembukaan rekening bebas biaya melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.
- Metode pembayaran beragam.
- Terdapat fitur autodebet.
Pembukaan rekening tabungan emas dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Tring! by Pegadaian sehingga lebih praktis sekaligus efisien.
Caranya adalah mengunduh dan melakukan registrasi, kemudian melakukan top up sesuai nominal yang diinginkan. Buku tabungan dapat diambil di cabang tempat pendaftaran.
Lalu, pilihan lainnya adalah di kantor cabang Pegadaian terdekat, dengan mengisi formulir dan melampirkan fotokopi kartu identitas.
Setelah itu, kamu akan diminta untuk melunasi pembayaran biaya administrasi, biaya pengelolaan rekening, dan meterai sesuai ketentuan.
Kamu kemudian dapat membeli emas sesuai ketentuan dan memperoleh buku tabungan yang mencatat saldo emas.
Demikian pembahasan mengenai apakah menabung emas bisa mengalahkan inflasi. Di tengah perubahan kondisi ekonomi dan daya beli, kamu dapat mempertimbangkan Emas Pegadaian.
Tabungan emas ini dapat digunakan untuk membangun kepemilikan emas secara bertahap. Saldo dapat ditambah sesuai kemampuan dan dicetak menjadi emas fisik jika diperlukan.
Pengajuan cetak fisik dapat dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau outlet terdekat. Tersedia kepingan 1 gram, 2 gram, hingga 100 gram dari Galeri 24, Antam, UBS, dan Lotus Archi.
Pengguna baru yang melakukan registrasi serta verifikasi data di aplikasi Tring! by Pegadaian akan otomatis mendapatkan rekening Emas Pegadaian.
Rekening tersebut berstatus pre-active selama 3 bulan dan dapat digunakan untuk transaksi sesuai dengan ketentuan.
Untuk memudahkan rencana menabung emas, kamu bisa menggunakan fitur Simulasi Emas Pegadaian. Dengan simulasi ini, kamu bisa mengonversi nominal top up dalam rupiah menjadi gramasi emas.
Jadi, jika kamu ingin mulai menabung emas dengan cara yang praktis, segera akses Emas Pegadaian melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung di outlet sesuai kebutuhan.
Baca juga: Kenaikan Harga Emas Per Tahun dan Faktor yang Memengaruhi
Berita dan Artikel Lainnya

Emas
Cara Melihat Emas Asli dan Palsu: 10 Cara Membedakannya
Keaslian emas sering kali menjadi kekhawatiran.. Mari kenali cara membedakan emas asli dan palsu dengan tepat berdasarkan sifatnya di artikel ini.

Emas
Cicil Emas vs Kredit Emas di Toko, Apa Saja Perbedaannya?
Cicil emas dan kredit emas di toko memiliki perbedaan dari lembaga penyedia, cicilan, jenis emas, biaya, hingga penyerahan fisik. Simak selengkapnya di sini.

Emas
Emas 18K Berapa Persen? Ini Arti Jumlah Persentasenya
Emas 18K berapa persen kemurnian riilnya? Mari cek informasi terkait hal tersebut selengkapnya di sini agar terhindar dari kecurangan saat melakukan pembelian!

