Penyebab IHSG Anjlok: Faktor Utama dan Cara Menghadapinya

Oleh Pegadaian dalam Investasi

08 June 2026
Bagikan :
image detail artikel

Penyebab IHSG anjlok kembali menjadi perhatian investor setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri merupakan indikator yang menggambarkan rata-rata pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Turunnya IHSG sering dianggap sebagai sinyal melemahnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi dan pasar modal Indonesia.

Saat IHSG naik, mayoritas saham biasanya ikut menguat karena optimisme pasar. Sebaliknya, ketika IHSG turun tajam, investor mulai khawatir terhadap kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga sentimen global.

Lantas, apa saja penyebab IHSG anjlok yang perlu menjadi perhatian investor? Mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Penyebab IHSG Anjlok

Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), IHSG sempat menguat di awal sesi sebelum akhirnya berbalik melemah lebih dari 1%.

Kondisi ini membuat banyak investor mencari tahu apa saja faktor yang menjadi penyebab utama pasar saham anjlok, dan kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global.

Salah satu pemicu utamanya adalah perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI yang membuat investor khawatir terhadap perubahan bobot saham di indeks global. Selain itu, berikut ini beberapa faktor lainnya:

1. Inflasi Tinggi

Inflasi yang tinggi membuat harga barang dan jasa naik. Kondisi ini menurunkan daya beli masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga ikut melambat.

Bagi perusahaan, inflasi juga meningkatkan biaya produksi. Akibatnya, laba perusahaan berpotensi menurun dan membuat investor lebih berhati-hati membeli saham.

2. Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS turut memberi tekanan pada pasar saham. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar akan menghadapi beban pembayaran lebih besar.

Selain itu, investor asing biasanya cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang ketika rupiah melemah tajam. Hal ini membuat tekanan jual di pasar saham semakin besar.

3. Sentimen Pasar dan Panic Selling

Pasar saham tidak hanya dipengaruhi oleh data ekonomi, tetapi juga oleh faktor psikologis investor. Saat IHSG turun tajam, banyak investor ritel langsung menjual saham karena takut rugi lebih besar.

Aksi panic selling tersebut membuat harga saham semakin jatuh dalam waktu singkat. Bahkan, trader teknikal biasanya ikut melakukan penjualan otomatis ketika harga menembus level support tertentu.

4. Tekanan Global dan Geopolitik

Konflik geopolitik dunia juga menjadi salah satu penyebab IHSG anjlok. Ketidakpastian global membuat investor memilih aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.

Akibatnya, dana asing keluar dari pasar saham Indonesia dan pada akhirnya menekan pergerakan IHSG.

Baca juga: Mengenal Indeks MSCI, Fungsi, Hingga Proses Pemilihan Saham

Rincian Performa Sektoral dan Saham di Tengah Koreksi

Penyebab IHSG anjlok turut berdampak pada seluruh sektor saham di BEI pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 11 sektor terkoreksi.

Sektor barang baku turun paling dalam sebesar 6,96%, diikuti oleh sektor energi sebesar 6,74% dan sektor barang konsumen nonprimer sebesar 5,70%. Meski begitu, masih ada sejumlah saham yang berhasil menguat di tengah tekanan pasar.

IHSG tercatat merosot 3,54% ke level 6.094,642 pada pukul 14.12 WIB, memperpanjang tren koreksi sejak pembukaan perdagangan pagi. Indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di level 6.378,811 sebelum terus bergerak turun hingga ke area terendah 6.080,954.

Pada penutupan sore, IHSG ditutup melemah 223,56 poin atau 3,54% ke posisi 6.094,94. Indeks LQ45 turut turun 14,28 poin atau 2,26% ke posisi 616,40. Di tengah koreksi, tidak ada satu pun sektor yang mampu bertahan di zona hijau pada hari tersebut.

Sentimen utama pelemahan IHSG datang dari rencana sentralisasi ekspor komoditas oleh BUMN ekspor yang dianggap akan merugikan perusahaan maupun pemegang saham, baik dari investor domestik maupun asing.

Tekanan jual dari investor asing pun masih sangat besar. Saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI justru menjadi penahan indeks.

Sementara itu, tekanan terbesar datang dari saham-saham konglomerasi dan energi seperti MORA, ASII, BREN, BRMS, dan BRPT.

Prospek IHSG Ke Depan

IHSG diperkirakan masih bergerak volatil karena pasar masih sensitif terhadap sentimen global serta arah kebijakan ekonomi domestik.

Berdasarkan analisis MNC Sekuritas yang dirilis Jumat, 22 Mei 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam kisaran support 5.899–5.996 dan resistance 6.318–6.459 dalam jangka pendek.

Jika arus dana asing mulai stabil pasca-effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026 dan sentimen global membaik, IHSG berpeluang rebound ke area 6.401–6.514.

Sementara itu, saham komoditas dan tambang masih menarik untuk diperhatikan, meski tekanan dari kebijakan ekspor satu pintu pemerintah masih membayangi pergerakannya.

Baca juga: 7 Cara Beli Saham & Tipsnya bagi Pemula agar Tidak Rugi

Haruskah Kamu Khawatir?

IHSG yang anjlok sebenarnya bukan hanya berdampak pada investor saham. Efeknya juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika investor asing menarik dana dari Indonesia, rupiah biasanya ikut melemah sehingga harga barang impor dan kebutuhan pokok berpotensi naik.

Selain itu, perusahaan juga cenderung lebih berhati-hati dalam berekspansi. Dampaknya, perekrutan karyawan baru bisa melambat bahkan memicu PHK di beberapa sektor.

Maka dari itu, memahami penyebab IHSG anjlok penting agar kamu tidak mudah panik saat pasar sedang bergejolak.

Dengan strategi investasi yang tepat dan portofolio yang terdiversifikasi, kondisi pasar yang turun justru bisa menjadi peluang jangka panjang.

Strategi Investasi yang Tepat Saat IHSG Menurun Tajam

IHSG yang anjlok memang sering membuat investor panik. Namun bagi investor jangka panjang, kondisi ini justru bisa menjadi peluang membeli saham berkualitas dengan harga lebih murah.

Pahami dulu penyebab penurunan pasar. Jangan langsung menjual aset hanya karena takut harga turun sementara.

Selanjutnya, pilih saham perusahaan dengan kondisi keuangan sehat dan bisnis yang kuat. Saham blue chip biasanya lebih mampu bertahan saat pasar bergejolak.

Sebaiknya jangan menaruh seluruh dana pada satu instrumen investasi. Diversifikasi membantu mengurangi risiko saat satu aset mengalami tekanan.

Selain saham, kamu juga bisa mempertimbangkan safe haven seperti emas untuk menjaga nilai aset saat pasar tidak stabil.

Salah satu pilihan praktis investasi emas adalah Tabungan Emas di Pegadaian. Dengan Tabungan Emas, kamu bisa membeli emas 24 karat mulai dari nominal kecil secara mudah dan fleksibel. Keunggulan lain yang ditawarkan oleh Tabungan Emas antara lain:

  • Pembelian mulai dari Rp10 ribuan.
  • Biaya pengelolaan ringan, yaitu Rp30 ribu per tahun.
  • Bisa transaksi online lewat aplikasi Tring! by Pegadaian.
  • Saldo emas tersimpan dengan aman dan mudah dicairkan.


Sebagai contoh, jika kamu menabung Rp20 ribu per hari, dalam sebulan kamu bisa mengumpulkan sekitar Rp600 ribu.

Jika mengacu pada harga emas per tanggal 13 Mei 2026, Rp2.746.000 per gram, maka nilai emas yang bisa kamu dapatkan dalam satu bulan adalah sekitar 0,218 gram. Sebagai catatan, hitungan ini tidak termasuk faktor fluktuasi harga emas.

Penasaran berapa gram emas yang dapat kamu tabung setiap waktunya? Tanpa perlu menghitung secara manual, kamu bisa menggunakan fitur Simulasi Tabungan Emas.

Transaksi Tabungan Emas kini bisa dilakukan dengan mudah melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Apabila ingin bertransaksi secara offline, kamu bisa datang ke kantor cabang Pegadaian terdekat.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai diversifikasi portofolio investasimu dengan menabung emas sekarang juga di Pegadaian!

Baca juga: Sektor Saham Paling Aman Untuk Pemula

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved