Apa Itu Loss Aversion: Dampak dan Cara Menghindarinya

Dalam mengambil keputusan finansial, rasa takut kehilangan uang terkadang membuat seseorang sulit menentukan langkah yang tepat.
Pola perilaku ini berkaitan dengan loss aversion. Loss aversion adalah bias psikologis yang membuat seseorang lebih takut mengalami kerugian daripada mengejar peluang keuntungan.
Dalam investasi, kecenderungan tersebut dapat memengaruhi cara investor merespons perubahan harga aset.
Misalnya, seseorang yang membeli emas merasa khawatir ketika harga jual kembali turun. Ia segera menjual emasnya karena takut mengalami kerugian yang lebih besar, meskipun belum mengevaluasi tujuan awal dan jangka waktu investasinya.
Mari kenali lebih lanjut dampak dan cara mengatasi loss aversion dalam investasi agar tidak terjebak dalam pola pikir yang justru merugikan rencana finansialmu.
Apa Itu Loss Aversion?
Loss aversion adalah kecenderungan psikologis ketika seseorang merasakan dampak kerugian lebih kuat daripada kepuasan saat memperoleh keuntungan dengan nilai yang sama.
Bias ini dapat memengaruhi cara seseorang menilai risiko dan mengambil keputusan, terutama dalam aktivitas investasi.
Dalam investasi saham, loss aversion dapat membuat investor enggan menjual aset yang nilainya terus menurun karena berharap harganya kembali naik.
Akibatnya, investor cenderung mempertahankan investasi tanpa mempertimbangkan kondisi pasar dan hasil analisis secara objektif.
Kecenderungan ini bisa muncul karena dominasi rasa kecewa akibat kehilangan uang daripada potensi keuntungan yang bisa diperoleh.
Jika tidak disadari, loss aversion dapat mendorong keputusan yang kurang rasional, seperti menunda penjualan aset yang bahkan sudah tidak sesuai dengan strategi investasi.
Baca juga: 10 Cara Memulai Investasi yang Mudah & Cepat Potensi Cuan!
Dampak Loss Aversion dalam Investasi
Loss aversion dapat memengaruhi cara investor dalam merespons perubahan harga aset dan menentukan langkah investasi berikutnya.
Ketika rasa takut kehilangan uang lebih dominan, investor berisiko mengambil keputusan yang kurang sesuai dengan kondisi pasar. Berikut beberapa dampaknya:
1. Menunda Keputusan Cut Loss
Investor yang mengalami kerugian sering kali enggan menjual aset karena berharap harganya kembali naik.
Sebagai contoh, saham yang dibeli seharga Rp500 per lembar mengalami penurunan menjadi Rp460. Alih-alih mengevaluasi prospek saham tersebut, investor memilih menahannya karena tidak ingin merealisasikan kerugian sebesar 8%.
Apabila harga terus turun, kerugian yang ditanggung bisa semakin besar. Kondisi ini menunjukkan bagaimana loss aversion dapat membuat investor mengabaikan hasil analisis demi menghindari rasa kecewa akibat kerugian.
2. Melewatkan Peluang Investasi Lain
Terlalu berfokus pada investasi yang merugi juga dapat membuat investor kehilangan peluang di instrumen lain.
Misalnya, investor terus menunggu harga saham di sektor perbankan pulih sehingga tidak mempertimbangkan peluang investasi di instrumen emas yang saat itu sesuai dengan strategi dan profil risikonya.
Kondisi ini juga berkaitan dengan opportunity cost, yaitu manfaat potensial yang hilang karena seseorang memilih satu alternatif dibandingkan alternatif lainnya.
Akibatnya, perhatian untuk memulihkan kerugian masa lalu dapat menghambat investor dalam mengevaluasi peluang yang tersedia.
3. Mengambil Keputusan Berdasarkan Emosi
Rasa takut mengalami kerugian lebih besar dapat mendorong investor menjual aset secara terburu-buru ketika harganya turun.
Sebaliknya, investor juga bisa terus mempertahankan aset yang prospek bisnisnya memburuk karena berharap nilainya kembali seperti semula.
Kedua tindakan tersebut menunjukkan bahwa emosi dapat menggeser pertimbangan rasional dalam berinvestasi.
Tanpa rencana investasi yang jelas, investor lebih rentan mengambil keputusan berdasarkan rasa takut atau harapan, alih-alih mempertimbangkan kondisi aset, tujuan investasi, dan batas risiko yang telah ditetapkan.
Baca juga: Delisting: Jenis, Penyebab, Dampak, & Cara Menghadapinya
Cara Menghindari Loss Aversion dalam Investasi
Kecenderungan loss aversion dapat memengaruhi objektivitas investor saat menghadapi perubahan harga aset.
Untuk mengurangi dampaknya, kamu perlu membangun kebiasaan investasi yang terencana dan mengelola emosi ketika mengambil keputusan. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
1. Tetapkan Tujuan Investasi dan Jangka Waktu yang Jelas
Perubahan harga dalam jangka pendek dapat memicu kekhawatiran, terutama ketika nilai investasi mengalami penurunan.
Oleh karena itu, tentukan tujuan investasi dan jangka waktu yang sesuai sejak awal agar kamu memiliki acuan saat mengevaluasi kinerja aset.
Hindari mengambil keputusan hanya karena fluktuasi harga harian. Selain itu, pertimbangkan pula kondisi fundamental aset, kebutuhan keuangan, dan strategi investasi yang telah disusun.
2. Susun Rencana Investasi dan Batas Risiko
Rencana investasi yang rinci akan membantu kamu menentukan langkah yang perlu diambil dalam berbagai kondisi pasar.
Tentukan alokasi dana, target investasi, serta batas risiko yang sanggup ditanggung sebelum mulai berinvestasi.
Dengan acuan tersebut, kamu dapat mengevaluasi kapan perlu mempertahankan atau menjual aset, termasuk melakukan cut loss ketika kondisi investasi tidak lagi sesuai dengan strategi awal.
3. Selektif dalam Menanggapi Informasi Pasar
Berita ekonomi, perubahan harga, dan opini di media sosial juga dapat memengaruhi keputusan investasi.
Informasi yang memicu rasa takut atau kekhawatiran berlebihan berisiko membuat investor bertindak terburu-buru tanpa mempertimbangkan kondisi aset secara menyeluruh.
Karena itu, sebelum membeli atau menjual aset, periksa informasi dari sumber kredibel dan bandingkan dengan hasil analisis pribadi.
Dengan begitu, keputusan investasi tetap didasarkan pada data dan tujuan keuangan, bukan sekadar mengikuti sentimen pasar.
4. Lakukan Diversifikasi Portofolio
Diversifikasi portofolio merupakan strategi membagi dana ke beberapa instrumen investasi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset.
Kamu dapat mempertimbangkan kombinasi aset, seperti saham, obligasi, dan emas, sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko.
Strategi ini akan membantu mengelola risiko ketika salah satu instrumen mengalami penurunan nilai. Meski demikian, diversifikasi portofolio tidak menjamin keuntungan atau menghilangkan seluruh risiko kerugian dari investasi.
5. Evaluasi Investasi secara Berkala
Memantau perubahan harga setiap saat dapat membuat kamu lebih mudah bereaksi secara emosional. Sebaiknya, tentukan jadwal evaluasi secara berkala, misalnya setiap awal bulan.
Gunakan evaluasi tersebut untuk menilai kinerja aset, perubahan kondisi pasar, dan kesesuaiannya dengan tujuan awal. Jika ditemukan perubahan mendasar, pertimbangkan untuk melakukan penyesuaian berdasarkan analisis.
Demikian pembahasan mengenai apa itu loss aversion, mulai dari dampak hingga cara menghindarinya dalam mengambil keputusan investasi.
Dengan memahami bias psikologis ini, kamu dapat mengelola emosi, mempertimbangkan risiko secara objektif, dan menentukan strategi investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan.
Ingin mengembangkan aset emas untuk masa depan? Deposito Emas Pegadaian bisa menjadi pilihan untuk mengoptimalkan kepemilikan emas sekaligus memperoleh imbal hasil 1% per tahun dengan pengenaan pajak 20%.
Melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, kamu bisa mendepositokan saldo emas dengan berat minimal 5 gram dan sisa saldo minimal 0,1 gram di rekening. Jangka waktu deposito emas pun fleksibel, mulai dari 6, 9, hingga 12 bulan.
Yuk, mulai rencanakan investasi emasmu sebagai bagian dari diversifikasi portofolio untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Baca juga: 6 Investasi Rendah Risiko Selain Deposito untuk Pemula
Berita dan Artikel Lainnya

Investasi
Perbedaan Sukuk dan Obligasi, Mana yang Lebih Menguntungkan?
Pahami perbedaan sukuk dan obligasi dari prinsip, imbal hasil, risiko, hingga dasar hukumnya agar kamu dapat memilih instrumen investasi yang sesuai.

Investasi
10 Negara dengan Mata Uang Paling Rendah di Dunia, Apa Saja?
Tahukah kamu apa saja mata uang terendah di dunia tahun 2023? Tingkat inflasi tinggi berdampak negatif pada nilai mata uang negara-negara di artikel ini.

Investasi
Hari Ibu: Investasi yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga
Banyak yang bilang bahwa kunci sukses mengatur keuangan rumah tangga ada di tangan istri sebagai ibu rumah tangga. Hal tersebut memang ada benarnya, sebab istri memiliki peran utama dalam mengatur arus keuangan rumah tangga. Itulah sebabnya seorang ibu rumah tangga harus piawai dan jeli dalam mengatur segala kebutuhan rumah tangga. Namun, ibu rumah tangga juga […]

