Apakah Harga Emas Akan Turun Lagi? Ini Prediksi Ahli & Strateginya

Oleh Pegadaian dalam Emas

23 July 2026
Bagikan :
image detail artikel

Pergerakan harga emas yang cenderung berubah-ubah membuat banyak calon investor ragu menentukan waktu pembelian.

Tidak sedikit yang memilih menunggu koreksi harga karena khawatir membeli emas saat nilainya sedang berada pada level tinggi.

Di tengah fluktuasi harga emas yang masih berlangsung, sebagian investor mulai mempertanyakan apakah harga emas akan turun lagi dalam waktu dekat atau justru melanjutkan tren kenaikannya.

Mengingat harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor, memahami prospek pergerakannya dapat membantu kamu mengambil keputusan investasi dengan lebih bijak.

Untuk memahami potensi pergerakan harga emas ke depan, mari simak penjelasan pada artikel ini sampai akhir.

Apakah Harga Emas Akan Turun Lagi dalam Waktu Dekat?

Secara singkat, harga emas masih berpotensi mengalami penurunan atau koreksi dalam jangka pendek. Namun, hal tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa tren kenaikan harga emas telah berakhir.

Berdasarkan pergerakan historis, emas dikenal sebagai instrumen investasi yang cenderung mampu mempertahankan nilainya dan menunjukkan tren kenaikan dalam jangka panjang, meskipun tetap mengalami fase penyesuaian harga dari waktu ke waktu.

Koreksi harga emas dapat terjadi akibat perubahan kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, hingga perubahan sentimen investor.

Meski demikian, sejumlah analis masih memandang prospek emas tetap positif dalam jangka menengah dan panjang.

Hal ini didukung oleh berbagai faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik, potensi penurunan suku bunga, serta meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.

Pandangan tersebut juga tercermin dari prediksi sejumlah lembaga keuangan internasional. Deutsche Bank memperkirakan rata-rata harga emas pada 2026 dapat mencapai US$3.700 per ons, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Sementara itu, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi melampaui US$3.700 per ons pada akhir 2025 dan mendekati US$4.000 per ons pada pertengahan 2026.

Goldman Sachs menilai prospek tersebut didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, ketegangan perdagangan global, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dunia.

Di sisi lain, Bank of America memperkirakan harga emas berada di kisaran US$3.036 per ons pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar US$3.350 per ons pada 2026.

Meskipun proyeksinya lebih konservatif, lembaga ini masih melihat adanya peluang kenaikan harga emas yang didorong oleh ketidakpastian pasar global.

J.P. Morgan juga menunjukkan pandangan yang optimistis dengan memprediksi harga emas dapat mencapai US$4.000 per ons pada 2026.

Menurut lembaga tersebut, ketidakpastian ekonomi dan politik global masih berpotensi mendorong inflasi sehingga permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai diperkirakan tetap tinggi.

Melihat berbagai proyeksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa apakah harga emas akan turun lagi dalam waktu dekat memang masih menjadi kemungkinan.

Namun, sebagian besar analis menilai bahwa potensi koreksi tersebut cenderung bersifat sementara dan belum mengubah prospek positif emas dalam jangka panjang.

Baca juga: Harga Emas Stagnan, Masih Menguntungkan untuk Investasi?

Haruskah Menunggu Harga Emas Turun untuk Mulai Investasi?

Pada dasarnya, kamu tidak perlu menunggu harga emas turun untuk mulai berinvestasi. Pasalnya, pergerakan harga emas sulit diprediksi secara pasti sehingga tidak ada jaminan bahwa harga akan kembali berada pada titik terendah dalam waktu dekat.

Alih-alih menunda investasi, kamu dapat mempertimbangkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) agar pembelian emas tetap dapat dilakukan secara konsisten, terlepas dari kondisi pasar yang sedang naik maupun turun.

Dollar Cost Averaging (DCA) merupakan strategi investasi yang dilakukan dengan membeli emas secara berkala menggunakan nominal dana yang sama dalam periode tertentu, misalnya setiap bulan.

Dengan strategi ini, kamu tidak perlu menyediakan dana besar sekaligus karena investasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan finansial.

Melalui metode DCA, harga beli emas akan menjadi lebih rata-rata karena pembelian dilakukan pada berbagai kondisi pasar.

Ketika harga emas mengalami penurunan, nominal investasi yang sama akan menghasilkan gramasi yang lebih banyak.

Sebaliknya, saat harga emas meningkat, jumlah gram yang diperoleh akan lebih sedikit. Dengan demikian, strategi ini dapat membantu mengurangi risiko membeli emas pada harga yang terlalu tinggi.

Baca juga: Investasi Emas Fisik vs Emas Digital, Ini Perbandingannya!

Sebagai gambaran, misalkan harga beli emas pada 5 Juli 2026 tercatat sebesar Rp25.660 per 0,01 gram atau setara dengan Rp2.566.000 per gram.

Apabila kamu memiliki target investasi sebesar Rp18 juta dalam satu tahun, maka dana tersebut dapat dibagi menjadi sekitar Rp1.500.000 per bulan. Dalam simulasi ini, diasumsikan harga emas mengalami kenaikan sebesar 2% per bulan.

Dengan menerapkan strategi DCA, kamu tetap membeli emas setiap bulan menggunakan nominal yang sama, yaitu Rp1.500.000, meskipun harga emas mengalami kenaikan maupun penurunan.

Ketika harga emas turun, dana Rp1.500.000 akan memberikan gramasi yang lebih besar. Sebaliknya, saat harga emas naik, jumlah gram yang diperoleh akan lebih sedikit.

Namun, karena pembelian dilakukan secara rutin selama 12 bulan dengan asumsi kenaikan harga emas 2% per bulan, harga beli emas akan menjadi lebih merata dan risiko membeli pada satu titik harga tertentu dapat diminimalkan.

Agar lebih jelas, berikut contoh simulasi pembelian emas selama 12 bulan:

Pada simulasi di atas, kamu tetap dapat berinvestasi secara konsisten tanpa harus menunggu harga emas turun terlebih dahulu.

Ketika harga emas berada pada level yang lebih rendah, nominal investasi yang sama akan menghasilkan gramasi emas yang lebih banyak. Sebaliknya, saat harga emas meningkat, gramasi yang diperoleh akan menjadi lebih sedikit.

Meskipun demikian, karena pembelian dilakukan secara bertahap selama 12 bulan, harga beli rata-rata menjadi lebih seimbang sehingga risiko membeli emas pada satu titik harga tertentu dapat diminimalkan.

Melalui strategi ini, kamu tidak perlu terlalu khawatir mengenai apakah harga emas akan turun lagi atau justru kembali meningkat dalam waktu dekat.

Sebab, fokus utama strategi DCA adalah membangun kebiasaan investasi yang konsisten dalam jangka panjang agar potensi pertumbuhan aset dapat terus dioptimalkan.

Strategi DCA juga dapat diterapkan melalui Emas Pegadaian, yaitu produk dari Pegadaian yang memungkinkan kamu berinvestasi emas tanpa perlu menyimpan emas fisik secara mandiri karena emas berbentuk saldo digital dengan setoran minimal Rp10 ribuan.

Setiap setoran yang dilakukan akan dikonversikan menjadi saldo emas sesuai harga yang berlaku saat transaksi dilakukan sehingga jumlah gramasi yang diperoleh dapat berbeda meskipun nominal setoran tetap sama.

Saldo emas yang terkumpul memiliki jaminan emas 24 karat, dapat dicairkan kembali, ditransfer ke sesama pemilik rekening, maupun dikonversikan menjadi emas fisik sesuai kebutuhan.

Yuk, buka rekening Emas Pegadaian melalui aplikasi Tring! by Pegadaian untuk mulai menerapkan strategi investasi secara konsisten tanpa perlu menunggu harga emas turun!

Baca juga: Emas Fisik Langka? Nabung Emas Digital di Tring! by Pegadaian Aja!

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved