GMV (Gross Merchandise Value): Cara Hitung & Memanfaatkannya

GMV adalah salah satu metrik yang paling sering digunakan dalam bisnis digital, terutama marketplace dan e-commerce.
Angkanya memang bisa terlihat besar dan mengesankan, tetapi belum tentu mencerminkan keuntungan yang benar-benar masuk ke perusahaan.
Maka dari itu, memahami GMV tidak cukup hanya tahu rumusnya. Kamu juga perlu tahu cara membacanya, membedakannya dengan revenue, serta memanfaatkannya untuk mengambil keputusan bisnis dengan tepat. Untuk penjelasan selengkapnya, simak di bawah ini.
Pengertian GMV (Gross Merchandise Value)
Gross Merchandise Value atau GMV adalah total nilai transaksi penjualan yang terjadi di sebuah platform pada periode tertentu.
Metrik ini biasanya digunakan oleh bisnis marketplace, startup, dan e-commerce untuk melihat pertumbuhan transaksi.
Walaupun sering dianggap sebagai pendapatan, sebenarnya GMV bukan revenue. Tidak semua uang hasil transaksi masuk ke perusahaan, karena sebagian besar tetap menjadi milik penjual.
Itulah mengapa GMV lebih cocok digunakan sebagai indikator aktivitas penjualan dan skala bisnis. Semakin besar nilainya, semakin tinggi pula aktivitas transaksi yang terjadi di platform tersebut.
Cara Menghitung GMV
GMV adalah nilai transaksi kotor sebelum dipotong diskon, biaya operasional, komisi platform, dan biaya pembayaran lainnya.
Maka dari itu, angka GMV sering terlihat jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan bersih. Berikut rumus GMV:
GMV = Harga Produk × Jumlah Produk Terjual
Contohnya, sebuah toko online berhasil menjual:
- 120 produk.
- Harga per produk Rp450.000.
Menggunakan rumus di atas, hitungan GMV menghasilkan hasil berikut:
GMV = 120 × Rp450.000 = Rp54.000.000.
Artinya, total transaksi penjualan mencapai Rp54 juta. Namun, angka tersebut belum menunjukkan laba ataupun uang yang benar-benar diterima perusahaan.
Biasanya, data retur atau pembatalan transaksi juga perlu diperhitungkan agar nilai GMV lebih akurat untuk evaluasi bisnis.
Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Kenali Jenis, Fungsi, dan Metodenya
Kelebihan GMV
GMV membantu bisnis membaca pertumbuhan transaksi dengan lebih cepat. Meskipun bukan indikator keuntungan, metrik ini tetap penting untuk melihat performa penjualan secara umum.
1. Memberikan Gambaran Aktivitas Penjualan
GMV membantu perusahaan melihat total nilai transaksi yang terjadi di platform. Dari sini, bisnis bisa mengetahui apakah penjualan sedang meningkat atau justru melambat.
2. Cocok untuk Marketplace dan Bisnis Konsinyasi
Pada model marketplace, perusahaan hanya menjadi penghubung antara penjual dan pembeli. Karena tidak memiliki stok sendiri, GMV menjadi indikator yang relevan untuk mengukur performa platform.
3. Mudah Dianalisis
Perhitungan GMV cukup sederhana sehingga mudah digunakan untuk membandingkan pertumbuhan bulanan maupun tahunan.
4. Mempermudah Benchmarking Bisnis
Investor dan pelaku industri sering menggunakan GMV untuk membandingkan skala bisnis antarplatform dalam sektor yang sama.
Meski punya banyak manfaat, GMV tetap memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipahami. Ini penjelasannya.
Kekurangan GMV
GMV memang terlihat menarik karena nilainya besar. Namun, jika dilihat tanpa metrik lain, angka ini bisa menimbulkan kesalahan dalam membaca kondisi bisnis.
1. Bukan Pendapatan Sebenarnya
Kekurangan pertama dari GMV adalah bahwa metrik ini tidak menunjukkan uang yang benar-benar masuk ke perusahaan. Misalnya, marketplace memiliki GMV Rp500 juta dengan komisi 2%, maka revenue riilnya hanya Rp10 juta.
2. Tidak Mencerminkan Profitabilitas
GMV tinggi belum tentu berarti bisnis untung besar. Jika biaya promosi dan operasional terlalu tinggi, perusahaan tetap bisa merugi.
3. Tidak Mengukur Loyalitas Pelanggan
GMV tidak menjelaskan apakah pelanggan melakukan pembelian ulang atau hanya bertransaksi satu kali saja.
4. Kurang Efektif Jika Berdiri Sendiri
Agar analisis lebih akurat, GMV perlu digabungkan dengan metrik lain, seperti revenue, margin keuntungan, dan customer retention.
Baca juga: Analisis SWOT Usaha: Kenali Tujuan dan Cara Membuatnya
Perbedaan GMV dan Revenue
GMV dan revenue sama-sama berkaitan dengan penjualan, tetapi fokusnya berbeda. GMV menunjukkan total nilai transaksi, sedangkan revenue menunjukkan pendapatan riil yang diterima bisnis.
Secara sederhana, GMV menjawab “berapa besar transaksi yang terjadi”, sedangkan revenue menjawab “berapa uang yang benar-benar masuk ke perusahaan”. Berikut ini perbedaannya:
Bisnis yang sehat tidak hanya mengejar GMV tinggi, tetapi juga memastikan revenue dan profit tetap bertumbuh.
Cara Memanfaatkan Data GMV untuk Bisnis
GMV bukan sekadar angka laporan bulanan. Jika dianalisis dengan benar, data ini bisa membantu bisnis berkembang lebih efisien. Caranya adalah sebagai berikut:
1. Membaca Pola Penjualan
GMV membantu melihat kapan penjualan meningkat, produk paling laris, hingga tren musiman. Informasi ini penting untuk pengelolaan stok dan strategi promo.
2. Menentukan Strategi Harga
Perubahan harga akan langsung memengaruhi nilai GMV. Dari sini, bisnis bisa mencari titik harga yang optimal tanpa mengurangi keuntungan.
3. Mengukur Efektivitas Marketing
GMV dapat membantu mengetahui channel promosi mana yang menghasilkan transaksi terbesar sehingga budget pemasaran lebih efisien.
4. Evaluasi Operasional Bisnis
GMV juga bisa dianalisis bersama data pengiriman, retur, dan pembayaran untuk menemukan kendala operasional yang perlu diperbaiki.
Peran GMV dalam Keputusan Investor
Investor biasanya melihat GMV sebagai tanda pertumbuhan dan daya tarik sebuah bisnis digital. Semakin tinggi transaksi yang terjadi, semakin besar peluang bisnis berkembang.
Namun, investor berpengalaman tidak hanya melihat GMV. Mereka juga memperhatikan revenue, profitabilitas, dan kemampuan bisnis mempertahankan pelanggan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa GMV memang penting untuk menunjukkan momentum pertumbuhan, tetapi tetap harus didukung oleh kondisi keuangan yang sehat.
Terkait dengan pengembangan bisnis, dana yang mencukupi diperlukan agar rencana bisa terlaksana sesuai dengan target.
Jika kamu sedang merencanakan pengembangan bisnis dan membutuhkan tambahan modal, Gadai BPKB Pegadaian bisa menjadi solusi untuk mendukung peningkatan penjualan maupun operasional usaha.
Pembiayaan ini menawarkan proses pengajuan yang praktis dengan jaminan BPKB kendaraan. Menariknya, kendaraan tetap dapat digunakan selama masa kredit. Selain itu, beberapa keunggulan yang ditawarkan adalah sebagai berikut:
- Cicilan tetap setiap bulan.
- Tenor mulai dari 3 hingga 36 bulan.
- Bisa diajukan oleh individu maupun badan usaha.
- Tersedia berbagai pilihan pembayaran.
Pengajuan dapat dilakukan langsung di kantor cabang Pegadaian terdekat. Namun, tidak menutup kemungkinan ke depannya pengajuan dapat dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.
Dengan dukungan modal dari Pegadaian, peluang mengoptimalkan metrik GMV bisnis pun bisa menjadi lebih besar. Mari ajukan Gadai BPKB sekarang untuk pengembangan bisnismu.
Baca juga: Mengenal Analisis Fundamental, Fungsi, & Langkah Analitisnya
Berita dan Artikel Lainnya

Wirausaha
4 Peluang Bisnis yang Cocok untuk Pasangan Muda
Anda dan pasangan baru saja mengarungi kehidupan berumah tangga, namun tertarik untuk membuka bisnis bersama? Kenapa tidak?

Wirausaha
6 Contoh Kegiatan Produksi dari Berbagai Sektor Industri
Kegiatan produksi adalah proses pembuatan produk berupa barang atau jasa yang bernilai. Mari cari tahu contoh kegiatan produksi di artikel ini.

Wirausaha
5 Cara Merintis Bisnis Ikan Laut, Cepat Cuan!
Banyaknya peminat seafood namun keterbatasan stok dan wilayah bisa dijadikan peluang untuk memulai bisnis ikan laut. Yuk simak selengkapnya!
