Apa Itu Accrued Expense? Pahami Jenis hingga Contohnya

Oleh Pegadaian dalam Wirausaha

11 June 2026
Bagikan :
image detail artikel

Dalam menjalankan bisnis, ada berbagai jenis pengeluaran yang perlu dicatat dengan tepat agar laporan keuangan tetap akurat. Salah satu istilah yang sering muncul dalam akuntansi adalah accrued expense.

Accrued expense berkaitan dengan beban atau biaya yang sebenarnya sudah muncul, tetapi pembayarannya belum dilakukan. Pencatatan ini penting karena dapat membantu bisnis mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya dalam suatu periode.

Lantas, apa itu accrued expense dan bagaimana penerapannya dalam bisnis? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Accrued Expense?

Accrued expense adalah beban atau biaya yang sudah terjadi dalam periode akuntansi tertentu, tetapi belum dibayarkan hingga akhir periode tersebut.

Dalam bahasa Indonesia, accrued expense sering disebut sebagai beban akrual atau beban yang masih harus dibayar.

Accrued expense termasuk kewajiban jangka pendek karena nantinya perusahaan tetap harus melakukan pembayaran kepada pihak terkait.

Biaya ini tetap perlu dicatat meskipun pembayaran belum dilakukan karena perusahaan sudah menerima manfaat atau menggunakan layanan tersebut.

Sebagai contoh, tagihan listrik perusahaan bulan Desember baru dibayar pada Januari. Meski pembayaran dilakukan bulan berikutnya, biaya listrik tetap harus dicatat pada laporan keuangan bulan Desember karena penggunaannya sudah terjadi pada periode tersebut.

Perbedaan Accrued Expense dan Account Payable

Accrued expense sering dianggap sama dengan account payable atau utang usaha. Padahal keduanya memiliki perbedaan.

Accrued expense muncul ketika perusahaan sudah memiliki kewajiban pembayaran, tetapi belum menerima tagihan atau invoice resmi.

Sementara itu, account payable terjadi ketika perusahaan sudah menerima invoice dari pemasok atau vendor dan tinggal melakukan pembayaran sesuai jatuh tempo.

Dengan kata lain, accrued expense biasanya dicatat berdasarkan estimasi atau perhitungan biaya yang sudah terjadi, sedangkan account payable dicatat berdasarkan tagihan yang sudah diterima secara resmi.

Baca juga: Enterprise Value: Fungsi, Rumus, dan Perhitungannya

Jenis Accrued Expense

Dalam praktik bisnis, accrued expense dapat muncul dalam berbagai bentuk. Berikut beberapa jenis accrued expense yang umum ditemukan:

1. Gaji Karyawan yang Belum Dibayar

Perusahaan biasanya membayar gaji pada tanggal tertentu setiap bulan. Jika periode akuntansi berakhir sebelum tanggal pembayaran gaji, maka biaya gaji tersebut termasuk accrued expense.

2. Tagihan Listrik dan Air

Penggunaan listrik dan air yang sudah berjalan tetapi belum dibayarkan juga termasuk accrued expense karena perusahaan sudah menggunakan layanan tersebut.

3. Beban Bunga Pinjaman

Jika perusahaan memiliki pinjaman, bunga yang sudah berjalan tetapi belum dibayar hingga akhir periode perlu dicatat sebagai accrued expense.

4. Pajak yang Masih Harus Dibayar

Beberapa jenis pajak mungkin belum dibayarkan pada akhir periode akuntansi. Meski begitu, kewajiban tersebut tetap perlu dicatat dalam laporan keuangan.

5. Biaya Sewa

Dalam beberapa kasus, perusahaan menggunakan aset atau gedung terlebih dahulu sebelum pembayaran sewa dilakukan. Biaya tersebut juga termasuk accrued expense.

Pentingnya Accrued Expense bagi Bisnis

Pencatatan accrued expense memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan bisnis. Berikut beberapa alasannya:

  • Membantu Laporan Keuangan Lebih Akurat: Dengan mencatat seluruh biaya yang sudah terjadi, laporan keuangan dapat mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya pada periode tertentu.
  • Mempermudah Perencanaan Keuangan: Perusahaan dapat mengetahui kewajiban yang belum dibayar sehingga arus kas dapat direncanakan dengan lebih baik.
  • Mendukung Pengambilan Keputusan Bisnis: Data keuangan yang akurat membantu pemilik usaha mengambil keputusan yang lebih tepat terkait pengeluaran, investasi, maupun pengembangan bisnis.
  • Membantu Kepatuhan Akuntansi: Pencatatan accrued expense penting dalam sistem akuntansi akrual karena membantu perusahaan mengikuti standar pencatatan keuangan yang berlaku.


Hubungan Accrued Expense dengan Akuntansi Akrual dan Akuntansi Kas

Accrued expense berkaitan erat dengan metode pencatatan akuntansi, terutama akuntansi akrual dan akuntansi kas.

Pada akuntansi akrual, pendapatan dan beban dicatat saat transaksi terjadi, bukan saat uang diterima atau dibayarkan. Itulah mengapa accrued expense menjadi bagian penting dalam metode ini.

Sebaliknya, pada akuntansi kas, transaksi baru dicatat ketika pembayaran benar-benar dilakukan. Dalam metode ini, accrued expense biasanya tidak dicatat sebelum pembayaran terjadi.

Banyak bisnis menggunakan metode akuntansi akrual karena dianggap lebih mampu menggambarkan kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.

Baca juga: Value for Money: Ini Manfaat, Indikator, Hingga Contohnya

Cara Mencatat Accrued Expense

Pencatatan accrued expense biasanya dilakukan dengan jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki biaya listrik sebesar Rp2.000.000 yang belum dibayar. Maka pencatatannya adalah:
Debit: Beban Listrik Rp2.000.000
Kredit: Utang Beban Rp2.000.000

Ketika pembayaran dilakukan, jurnalnya berubah menjadi:

Debit: Utang Beban Rp2.000.000
Kredit: Kas Rp2.000.000

Dengan cara ini, biaya tetap tercatat pada periode yang sesuai meskipun pembayaran dilakukan pada waktu berbeda.

Contoh Accrued Expense

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana accrued expense dalam bisnis:

Sebuah perusahaan memiliki karyawan yang bekerja hingga akhir bulan Desember. Namun, gaji baru dibayarkan pada awal Januari sebesar Rp15.000.000.

Mengingat pekerjaan sudah dilakukan pada bulan Desember, perusahaan perlu mencatat biaya gaji tersebut sebagai accrued expense pada laporan keuangan Desember.

Contoh lainnya adalah tagihan internet kantor yang digunakan sepanjang bulan tetapi baru dibayar pada bulan berikutnya.

Itulah penjelasan terkait accrued expense yang merupakan salah satu elemen dalam laporan akuntansi perusahaan.

Accrued expense adalah biaya yang sudah terjadi tetapi belum dibayarkan hingga akhir periode akuntansi. Pencatatan ini penting untuk membantu bisnis menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan mempermudah pengelolaan arus kas perusahaan.

Bagi pelaku usaha, pengelolaan keuangan yang baik juga perlu didukung dengan akses pendanaan yang tepat.

Jika bisnis membutuhkan tambahan modal untuk mendukung operasional maupun pengembangan, Gadai BPKB dari Pegadaian bisa menjadi solusi yang praktis.

Proses pengajuan Gadai BPKB Pegadaian mudah dengan jaminan BPKB kendaraan. Meski BPKB dijaminkan, kendaraan tetap dapat digunakan untuk mendukung aktivitas usaha sehari-hari.

Dengan proses yang transparan dan pencairan dana yang relatif cepat, Gadai BPKB dapat membantu pelaku usaha memperoleh tambahan modal sesuai kebutuhan.

Pengajuan saat ini bisa dilakukan di kantor cabang Pegadaian terdekat. Namun, tidak menutup kemungkinan ke depannya proses pengajuan bisa dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Yuk, dapatkan tambahan modal usaha bersama Pegadaian sekarang!

Baca juga: Inilah Pertanyaan Seputar Pinjaman Serbaguna di Pegadaian!

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved