Apa Itu Doom Spending? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Oleh Pegadaian dalam Keuangan

06 September 2026
Bagikan :
image detail artikel

Pernahkah kamu mendengar tentang “doom spending”? Doom spending merupakan kebiasaan yang ditandai dengan pengeluaran impulsif akibat rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap kondisi ekonomi dan masa depan.

Kebiasaan ini bukan sekadar didasarkan pada keinginan berbelanja, melainkan pada dorongan emosional untuk mencari rasa lega melalui transaksi. Yuk, kenali ciri, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya!

Pengertian Doom Spending

Doom spending adalah perilaku yang terjadi ketika belanja dijadikan pelarian dari emosi yang tidak nyaman. Contohnya, saat stres, lelah, bosan, atau khawatir, kamu membeli sesuatu untuk mendapatkan kepuasan cepat meski tidak dibutuhkan.

Dilihat dari karakter perilakunya, doom spending berbeda dari belanja biasa karena muncul ketika transaksi dilakukan terutama untuk menenangkan emosi.

Adapun contoh lain adalah ketika kamu masih nyaman memakai gadget saat ini, tetapi ingin membeli yang terbaru setelah melihat tren di media sosial. Keputusan tersebut bisa lebih dipengaruhi oleh FOMO daripada oleh kebutuhan.

Ciri-Ciri Doom Spending

Masalah doom spending tidak selalu selesai hanya dengan “harus lebih hemat”. Pemicu emosional dan ciri-cirinya juga perlu dikenali agar pola belanja tidak berulang.

Ciri-ciri doom spending dapat berbeda pada setiap orang. Beberapa pola berikut dapat membantu kamu mengevaluasi kebiasaan belanja:

1. Rasa Bersalah setelah Berbelanja

Setelah melakukan pembelian, kamu merasa bersalah atau menyesal karena menyadari barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Perasaan ini biasanya muncul setelah dorongan emosional untuk membeli barang tersebut mereda.

2. Belanja sebagai Respons Stres atau Kecemasan

Belanja digunakan sebagai cara untuk mengalihkan pikiran dari stres, kecemasan, rasa bosan, atau masalah yang sedang dihadapi. Kepuasan dari transaksi mungkin memberikan rasa lega, tetapi biasanya hanya bersifat sementara.

3. Mengabaikan Kondisi Keuangan

Doom spending biasanya mendorong seseorang untuk tetap berbelanja meskipun mengetahui bahwa saldo atau anggaran sedang terbatas. Kebutuhan finansial yang lebih penting bahkan bisa diabaikan karena dorongan untuk membeli terasa lebih kuat.

4. Keinginan Berbelanja Lebih

Setelah menyelesaikan satu transaksi, muncul keinginan untuk membeli barang lain agar rasa senang tetap bertahan. Akibatnya, satu pembelian yang awalnya terlihat kecil dapat berkembang menjadi beberapa transaksi tanpa direncanakan.

5. Menggunakan Kredit atau Utang untuk Belanja

Kartu kredit, paylater, atau pinjaman digunakan untuk membiayai pembelian yang sebenarnya bukan kebutuhan utama. Jika terus dilakukan, kebiasaan ini dapat membuat tagihan menumpuk dan membebani kondisi keuangan.

6. Belanja Impulsif tanpa Pertimbangan

Pembelian dilakukan secara mendadak tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Seseorang yang terbiasa belanja impulsif juga cenderung melewatkan pertimbangan mengenai anggaran, manfaat barang, dan kemampuan untuk membelinya.

Baca juga: Cara Menghemat Pengeluaran Anak Kos agar Tidak Boros

Penyebab Terjadinya Doom Spending

Doom spending biasanya muncul akibat kombinasi kondisi emosional, lingkungan digital, dan kebiasaan finansial. Beberapa faktor yang sering memicunya antara lain:

  • Kemudahan Akses Belanja Online: Belanja hanya membutuhkan beberapa klik sehingga jeda untuk mempertimbangkan kebutuhan menjadi semakin kecil.
  • Kecemasan tentang Masa Depan: Ketidakpastian ekonomi atau kehidupan dapat membuat sebagian orang memilih menikmati sesuatu sekarang sebagai pelarian dari rasa khawatir.
  • Tekanan Sosial dan Media Sosial: Konten gaya hidup dan tren dapat memicu perbandingan dan FOMO, sehingga kamu merasa perlu mengikuti sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan.
  • Kurangnya Pendidikan Finansial: Pemahaman terbatas tentang anggaran, utang, tabungan, dan investasi dapat membuat keputusan belanja lebih sulit dikendalikan.
  • Kebudayaan Konsumerisme yang Mengakar: Tren fashion, teknologi, dan gaya hidup membuat konsumsi terasa seperti bagian dari hiburan dan pencapaian sehari-hari.


Dampak Doom Spending terhadap Finansial

Doom spending dapat menimbulkan dampak ringan hingga serius, terutama jika dilakukan terus-menerus. Berikut beberapa dampak yang terasa:

  • Hilangnya Peluang Investasi atau Menabung: Uang yang habis untuk pembelian tidak penting sebenarnya dapat dialihkan ke tabungan atau investasi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat target finansial.
  • Hubungan yang Terganggu: Tekanan keuangan dapat memicu konflik dengan pasangan atau keluarga, terutama ketika belanja impulsif mengganggu kebutuhan bersama.
  • Utang Bertambah: Jika transaksi dibiayai dengan kartu kredit, paylater, atau pinjaman, pengeluaran hari ini dapat berubah menjadi beban tagihan pada bulan berikutnya.


Baca juga: 7 Tips Menghindari Utang Konsumtif untuk Menjaga Keuangan

Strategi Mengatasi Doom Spending

Fokus mengatasi doom spending bukan melarang diri sendiri berbelanja, melainkan membuat keputusan dengan lebih sadar. Berikut adalah hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi kebiasaan doom spending:

1. Praktikkan Mindful Spending

Apabila kamu sudah terbiasa berbelanja untuk meredakan emosi, jangan langsung memaksa diri berhenti total. Mulailah dengan mengevaluasi setiap pembelian setelah dorongan belanja muncul dan beri kesempatan pada diri sendiri untuk memahami alasan di baliknya.

2. Identifikasi Pemicu

Lihat kembali transaksi yang paling sering kamu sesali, lalu cari pola di baliknya. Dari sana, kamu bisa mengetahui apakah doom spending lebih sering terjadi saat sedang stres, bosan, cemas, atau merasa tertekan oleh lingkungan sekitar.

3. Buat Anggaran Realistis

Setelah mengetahui pola pengeluaranmu, susun ulang kondisi keuangan berdasarkan kemampuanmu yang sebenarnya.

Pisahkan dana untuk kebutuhan utama, kewajiban, tabungan, dan hiburan agar kamu tetap memiliki ruang untuk menikmati uang tanpa mengorbankan kebutuhan penting.

4. Cari Dukungan

Jika kebiasaan belanja sudah sulit dikendalikan sendiri, tidak ada salahnya melibatkan orang lain. Ceritakan kondisi keuanganmu kepada pasangan, sahabat, atau penasihat keuangan agar kamu memiliki sudut pandang dan dukungan saat mulai memperbaiki kebiasaan tersebut.

5. Gunakan Metode Pembayaran yang Lebih Bijak

Jika kartu kredit, paylater, atau metode pembayaran tertentu membuat pengeluaran semakin sulit dikontrol, coba evaluasi kembali cara menggunakannya.

Untuk sementara, kamu bisa membatasi fasilitas tersebut sampai pola belanja mulai lebih stabil dan kondisi keuangan kembali terkendali.

Tips Menghindari Doom Spending

Kabar baiknya, kebiasaan doom spending bisa diregulasi. Tujuannya bukan untuk membuat kamu antibelanja, tetapi membuat kamu lebih sadar saat mengambil keputusan. Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba:

  • Pikirkan sebelum Membeli: Terapkan aturan 24 jam untuk barang nonkebutuhan agar emosi tidak langsung menentukan keputusan.
  • Kurangi Konten yang Mendorong FOMO: Pilih konten media sosial dengan lebih sadar dan kurangi akun yang sering membuatmu terdorong mengikuti tren.
  • Lebih Selektif dalam Menggunakan Fasilitas Pembayaran: Gunakan paylater atau kartu kredit hanya jika diperlukan dan sesuai dengan kemampuan membayar. Batasi metode pembayaran tertentu.
  • Alihkan Pengeluaran ke Target Finansial: Tentukan target seperti dana darurat, cicilan, liburan, atau investasi bertahap. Tujuan yang jelas membuat uang terasa memiliki arah.
  • Pahami Perasaan sebelum Membeli: Sebelum checkout, tanyakan apakah kamu benar-benar membutuhkan barang tersebut atau sedang mencari pelarian dari stres, lelah, atau kecewa.


Mengelola doom spending bukan berarti menghilangkan semua bentuk belanja. Kamu justru bisa mengarahkan sebagian dana ke tujuan yang lebih terencana.

Salah satu cara menghadapi tren doom spending adalah dengan lebih bijak dalam mengelola stres finansial agar tidak terjebak dalam penyesalan.

Cobalah menyalurkan energi belanja kamu ke dalam bentuk investasi yang bernilai tinggi dan tahan terhadap inflasi. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Emas Pegadaian.

Emas Pegadaian memungkinkan kamu membeli, menyimpan, dan menambah saldo emas digital mulai dari Rp10 ribuan secara bertahap. Jika ingin tahu berapa gram emas yang kamu beli, gunakan fitur Simulasi Emas Pegadaian.

Keunggulannya adalah emas yang diasuransikan, saldo yang dapat ditransfer melalui aplikasi, serta pembukaan rekening tanpa biaya sesuai ketentuan.

Kamu bisa membuka rekening dan mulai bertransaksi melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Namun, jika lebih nyaman bertransaksi secara langsung, kamu dapat membuka rekening di kantor cabang Pegadaian terdekat.

Jadi, mari mulai kebiasaan keuangan yang sehat dengan menabung emas di Pegadaian sekarang.

Baca juga: Contoh Skala Prioritas dalam Kehidupan Sehari-hari & Cara Menyusunnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162

logo

Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved