Devaluasi: Tujuan, Penyebab, dan Dampaknya bagi Ekonomi

Dalam kondisi tertentu, pemerintah dapat menurunkan nilai mata uang negaranya atau nilai kurs terhadap mata uang asing. Kebijakan ini disebut devaluasi dan biasanya dilakukan untuk mencapai tujuan ekonomi tertentu.
Devaluasi adalah kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang asing demi tujuan ekonomi tertentu.
Namun, devaluasi tidak dilakukan secara sembarangan karena harus mempertimbangkan berbagai faktor. Lantas, apa saja penyebab pemerintah melakukan devaluasi? Simak selengkapnya dalam pembahasan berikut.
Apa Itu Devaluasi?
Devaluasi adalah kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang suatu negara dibandingkan dengan mata uang asing sebagai upaya mengatasi masalah ekonomi.
Ketika nilai mata uang turun, produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar internasional sehingga peluang ekspor meningkat. Sebaliknya, barang dari luar negeri menjadi lebih mahal sehingga impor cenderung berkurang.
Kebijakan devaluasi bertujuan untuk memperkuat perekonomian, meningkatkan pendapatan dari ekspor, dan membantu menyeimbangkan neraca pembayaran. Meski demikian, devaluasi juga dapat menyebabkan harga barang impor naik sehingga berpotensi mendorong inflasi.
Jenis-Jenis Devaluasi
Devaluasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan besarnya penurunan nilai mata uang dan cara penerapannya. Berikut penjelasan mengenai jenis-jenis devaluasi:
1. Devaluasi Halus
Devaluasi halus adalah penurunan nilai mata uang dengan dampak yang relatif kecil, yaitu sekitar 5% per tahun. Mengingat penurunannya yang tidak terlalu besar, kebijakan ini umumnya tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap kondisi ekonomi suatu negara.
2. Devaluasi Sedang
Devaluasi sedang adalah penurunan nilai mata uang yang berkisar antara 5% hingga 15% per tahun. Dampaknya lebih terasa dibandingkan dengan devaluasi halus, tetapi masih berada pada tingkat yang dapat dikendalikan.
3. Devaluasi Cepat
Devaluasi cepat adalah penurunan nilai mata uang sekitar 15% hingga 25% per tahun. Kondisi ini dapat meningkatkan daya saing produk ekspor karena harganya menjadi lebih murah di pasar internasional.
Namun, di sisi lain, harga barang impor juga naik sehingga mulai berdampak pada pengeluaran masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada produk dari luar negeri.
4. Devaluasi Terus-Menerus
Devaluasi terus-menerus adalah penurunan nilai mata uang yang melebihi 25% dan berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi ini biasanya menjadi tanda bahwa perekonomian suatu negara sedang mengalami masalah atau bahkan krisis ekonomi.
Baca juga: Diversifikasi Bisnis atau Fokus? Pilih Strategi Bisnismu!
Contoh Devaluasi
Di Indonesia, kebijakan devaluasi pernah beberapa kali diterapkan untuk menghadapi tantangan ekonomi pada masanya. Berikut beberapa contoh devaluasi yang pernah dilakukan oleh pemerintah Indonesia:
1. Devaluasi Tahun 1978
Devaluasi tahun 1978 dilakukan karena pendapatan negara dari ekspor minyak bumi menurun, sehingga memicu defisit anggaran. Untuk mengatasinya, pemerintah menurunkan nilai rupiah dengan menaikkan kurs dolar AS dari Rp415 menjadi Rp625.
Pada saat yang sama, pemerintah juga mengubah sistem nilai tukar menjadi mengambang terkendali (managed floating exchange rate). Hal ini menyebabkan nilai rupiah bergerak mengikuti kondisi pasar dengan tetap diawasi oleh pemerintah.
2. Devaluasi Tahun 1983
Pada 30 Maret 1983, pemerintah melakukan devaluasi rupiah dengan menurunkan nilainya sekitar 48%, dari Rp702,5 menjadi Rp970 per dolar AS.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekspor nonmigas serta mengurangi ketergantungan pada penerimaan dari sektor minyak dan gas di tengah perubahan kondisi ekonomi global.
3. Devaluasi Tahun 1986
Pada 12 September 1986, pemerintah kembali melakukan devaluasi dengan menurunkan nilai tukar rupiah sekitar 47%, dari Rp1.134 menjadi Rp1.664 per dolar AS.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk mendukung perekonomian dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
Baca juga: Fungsi Hukum Bisnis: Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkupnya
Faktor Penyebab Devaluasi
Pemerintah tidak menerapkan devaluasi tanpa alasan. Ada beberapa kondisi ekonomi yang dapat mendorong penerapan kebijakan ini. Berikut beberapa faktor penyebab devaluasi:
1. Memperbaiki Neraca Dagang
Devaluasi dapat dilakukan untuk memperbaiki neraca dagang ketika nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor.
Dengan menurunkan nilai mata uang, harga produk ekspor menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga lebih mudah bersaing dan diharapkan dapat meningkatkan ekspor.
2. Pengangguran
Tingginya angka pengangguran juga dapat menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan devaluasi. Dengan meningkatnya ekspor, perusahaan dapat memperbesar produksi dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Jika berhasil, pendapatan masyarakat akan meningkat dan pertumbuhan ekonomi ikut terdorong.
Dampak Diberlakukannya Devaluasi
Penerapan devaluasi dapat memberikan berbagai dampak terhadap perekonomian, baik bagi kegiatan perdagangan maupun industri dalam negeri. Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi setelah kebijakan devaluasi diberlakukan:
1. Berkurangnya Jumlah Barang Impor
Devaluasi adalah kebijakan yang membuat nilai mata uang suatu negara melemah terhadap mata uang asing.
Dampaknya, harga barang impor menjadi lebih mahal sehingga jumlah impornya cenderung berkurang. Kondisi ini juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih memilih dan menggunakan produk lokal.
2. Kenaikan Jumlah Barang Ekspor
Devaluasi juga dapat meningkatkan volume ekspor. Hal ini karena harga produk dalam negeri menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri, sehingga permintaan berpotensi meningkat.
Jika ekspor bertambah, pendapatan negara dari perdagangan internasional juga ikut meningkat.
3. Produk Lokal Bisa Bersaing di Luar Negeri
Devaluasi membuat produk lokal lebih mampu bersaing di pasar internasional karena harganya menjadi lebih terjangkau bagi pembeli dari luar negeri.
Kondisi ini dapat meningkatkan ekspor sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar. Selain itu, masyarakat di dalam negeri juga cenderung lebih memilih produk lokal karena barang impor menjadi lebih mahal.
4. Adanya Perubahan Metode Produksi
Salah satu dampak devaluasi adalah mendorong perusahaan untuk meningkatkan atau menyesuaikan proses produksinya agar mampu memenuhi permintaan yang lebih tinggi.
Ketika produksi bertambah, perusahaan biasanya membutuhkan lebih banyak tenaga kerja sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran.
5. Terjadinya Keseimbangan pada Neraca Pembayaran
Devaluasi dapat membantu menyeimbangkan neraca pembayaran. Ketika nilai mata uang turun, ekspor cenderung meningkat dan impor berkurang. Kondisi ini dapat membantu mengurangi defisit serta membuat neraca pembayaran lebih seimbang.
Pengaruh Devaluasi terhadap Pasar dan Investasi
Kebijakan devaluasi tidak hanya memengaruhi nilai mata uang, tetapi juga berdampak pada perdagangan, daya beli masyarakat, hingga keputusan investasi. Ketika nilai mata uang melemah, harga berbagai aset dapat ikut berubah.
Salah satu instrumen yang sering mendapat sentimen positif saat kondisi ini terjadi adalah emas. Nilai emas cenderung meningkat ketika mata uang melemah sehingga banyak investor memilihnya sebagai aset untuk menjaga nilai kekayaan.
Itulah pembahasan tentang devaluasi yang perlu dipahami dalam praktik ekonomi, termasuk dalam investasi. Memahami bahwa devaluasi dapat menurunkan nilai mata uang domestik membuat investor perlu lebih cermat dalam memilih instrumen investasi.
Daripada membiarkan dana mengendap dan berisiko kehilangan nilainya, mengalokasikan sebagian dana ke emas dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang.
Salah satu cara praktis untuk mulai berinvestasi emas secara bertahap adalah melalui Emas Pegadaian yang bisa diakses di aplikasi Tring! by Pegadaian.
Namun, jika lebih nyaman bertransaksi secara langsung, maka nasabah juga dapat mengunjungi kantor cabang Pegadaian terdekat.
Sebelum mulai menabung, kamu juga dapat memanfaatkan fitur Simulasi Tabungan Emas untuk memperkirakan jumlah gram emas yang bisa kamu beli.
Sebagai contoh, jika harga emas sekitar Rp2.519.000 per gram pada 1 Juli 2026, maka dengan menabung sekitar Rp251.900 kamu sudah dapat memiliki sekitar 0,1 gram emas.
Dengan menyisihkan dana secara rutin, kepemilikan emas dapat terus bertambah tanpa harus membeli 1 gram sekaligus.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai lindungi nilai asetmu dari dampak perubahan ekonomi dengan menabung emas di Pegadaian sekarang!
Baca juga: 10 Negara dengan Mata Uang Paling Rendah di Dunia, Apa Saja?
Berita dan Artikel Lainnya

Keuangan
Mengenali 7 Perbedaan Pajak dan Retribusi, Simak & Catat!
Ada beberapa perbedaan pajak dan retribusi, mulai dari dasar hukum, fungsi, tujuan, manfaat, hingga penerimanya. Ketahui informasi lengkapnya di artikel ini!

Keuangan
E-Budgeting: Tujuan, Manfaat, Keuntungan, & Kekurangannya
E-budgeting adalah penganggaran yang dilakukan secara digital. Cari tahu tentang definisi, tujuan, manfaat, keuntungan, dan kekurangannya di artikel ini!

Keuangan
Money Laundry: Pahami Dasar Hukum, Ciri-Ciri, & Prosesnya
Money laundry adalah proses menyembunyikan uang hasil kejahatan agar tampak berasal dari sumber yang sah. Mari ketahui ciri dan prosesnya di sini.

