Jika Nilai Investasi Turun Apa yang Harus Dilakukan? Ini Langkah Tepatnya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Investasi

26 May 2026
Bagikan :
image detail artikel

Bagi investor, fluktuasi nilai aset di pasar global merupakan sesuatu yang biasa. Namun, hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi.

Lantas, jika nilai investasi turun, apa yang harus dilakukan? Pertanyaan ini sering muncul saat pasar sedang tidak stabil.

Kondisi ini sebenarnya wajar dalam dunia investasi karena harga aset bisa naik dan turun dari waktu ke waktu.

Kendati demikian, tidak perlu langsung panik ketika melihat portofolio investasi merah, dan yang terpenting adalah memahami penyebab penurunan dan mengambil langkah yang tepat agar risiko kerugian dapat diminimalkan.

Untuk menyikapi penurunan nilai investasi dengan bijak, mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Bisakah Nilai Investasi Mengalami Penurunan?

Mengambil sikap saat nilai investasi menurun harus diawali dengan memahami bahwa penurunan nilai investasi itu sendiri adalah hal yang normal.

Hampir semua instrumen investasi memiliki risiko fluktuasi harga. Berikut beberapa faktor yang membuat nilai investasi bisa turun:

1. Pergerakan Pasar

Harga saham, reksa dana, hingga emas dapat berubah karena kondisi ekonomi dan pasar global. Kebijakan pemerintah atau suku bunga juga bisa memengaruhi pergerakan harga investasi.

2. Kinerja Perusahaan

Pada investasi saham, kondisi perusahaan sangat menentukan harga aset. Jika laba menurun atau perusahaan menghadapi masalah, harga saham biasanya ikut turun.

3. Sentimen Investor

Psikologi pasar juga memiliki pengaruh besar. Saat investor panik atau takut terhadap kondisi ekonomi, harga aset bisa turun cukup tajam dalam waktu singkat.

Maka dari itu, sebelum mengambil keputusan investasi, penting untuk memahami situasi pasar secara menyeluruh agar tidak salah langkah.

Jika Nilai Investasi Turun, Apa yang Harus Dilakukan?

Keputusan investasi perlu didasarkan pada tujuan dan kondisi keuangan kamu. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa diterapkan apabila nilai investasi turun:

1. Jangan Panik

Saat nilai investasi turun, usahakan tetap tenang. Jangan melakukan panic selling yang sering membuat investor menjual aset di harga rendah dan akhirnya mengalami kerugian besar.

Pasar investasi memang bergerak naik dan turun. Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya dibuat secara logis, bukan karena emosi sesaat.

2. Cek Investasi yang Kamu Miliki

Periksa kembali aset yang kamu miliki. Cari tahu apakah penurunan terjadi karena kondisi pasar secara umum atau memang performa aset tersebut memburuk.

Jika fundamental investasi masih baik, kamu tidak perlu buru-buru menjual aset hanya karena harga sedang turun.

3. Ingat Kembali Tujuan Keuangan Jangka Panjang

Sebelum buru-buru menjual aset, ingat kembali tujuan investasi yang sudah kamu buat sejak awal. Jika target investasi masih jangka panjang, penurunan sementara biasanya masih bisa ditoleransi.

Fokus pada tujuan keuangan justru bisa membantu kamu tetap disiplin dan tidak mudah ikut tren pasar sesaat.

Baca juga: Portofolio Saham: Pengertian, Jenis, Cara Membuat, & Contoh

4. Melakukan Riset Pasar

Riset sangat penting dilakukan ketika nilai instrumen investasi di pasar sedang turun. Kamu perlu memahami penyebab penurunan dan melihat peluang yang mungkin muncul.

Dari hasil riset, kamu bisa menentukan apakah sebaiknya membeli lagi, menahan aset, atau menjual sebagian investasi.

5. Menambah Investasi

Saat harga aset turun, beberapa investor justru memanfaatkan kondisi ini untuk membeli di harga lebih murah. Strategi ini cocok untuk tujuan investasi jangka panjang. Namun, pastikan kondisi keuangan tetap aman sebelum menambah investasi baru.

6. Mengutamakan Manajemen Risiko

Manajemen risiko harus selalu menjadi prioritas. Hindari menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi saja.

Lakukan diversifikasi portofolio yang dapat membantu kamu mengurangi risiko kerugian saat salah satu aset mengalami penurunan.

7. Menunggu Sampai Harga Naik Kembali

Jika hasil analisis menunjukkan aset masih bagus, kamu bisa memilih untuk menunggu hingga harga kembali naik.

Namun, tetap tentukan batas kerugian yang bisa diterima agar kamu tahu kapan harus keluar dari investasi tersebut.

8. Menyiapkan Dana Likuid

Dana likuid penting untuk menghadapi kondisi darurat. Dengan memiliki dana tunai, kamu tidak perlu menjual investasi saat harga sedang turun. Idealnya, dana darurat dipisahkan dari dana investasi agar kondisi keuangan tetap stabil.

9. Melakukan Cut Loss

Cut loss dilakukan untuk membatasi kerugian agar tidak semakin besar. Langkah ini biasanya dipilih jika aset terus turun dan prospeknya kurang baik.

Walaupun terasa berat, cut loss terkadang menjadi keputusan yang lebih aman dibandingkan dengan mempertahankan aset yang terus merugi.

Baca juga: 7 Cara Beli Saham & Tipsnya bagi Pemula agar Tidak Rugi

Waktu yang Tepat untuk Melakukan Penjualan

Walaupun mempertahankan investasi sering dianggap bijak, beberapa kondisi berikut membuat penjualan aset perlu dipertimbangkan:

1. Jika Risiko Terlalu Besar

Jika fluktuasi investasi sudah melebihi toleransi risiko kamu, menjual sebagian aset bisa membantu melindungi portofolio. Cara ini juga membuat kondisi keuangan lebih tenang saat pasar tidak stabil.

2. Jika Ada Perubahan Fundamental

Perubahan fundamental seperti penurunan kinerja perusahaan atau masalah manajemen dapat menjadi tanda untuk keluar dari investasi. Untuk itu, selalu pantau perkembangan aset yang kamu miliki secara rutin.

3. Jika Kebutuhan Keuangan Berubah

Ketika ada kebutuhan dana mendesak atau tujuan keuangan berubah, menjual investasi bisa menjadi pilihan yang realistis. Pastikan keputusan tersebut tetap disesuaikan dengan kondisi pasar dan kebutuhan pribadi.

Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, memiliki instrumen investasi yang cenderung stabil dari waktu ke waktu juga bisa menjadi pilihan menarik.

Jika kamu ingin mulai investasi secara aman dan praktis, Pegadaian menghadirkan Tabungan Emas yang bisa menjadi pilihan yang menguntungkan. Menabung emas di Pegadaian juga memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:

  • Emas dijamin 24 karat.
  • Bisa mulai menabung dari Rp10 ribuan.
  • Biaya pengelolaan ringan, yaitu Rp30 ribu per tahun.
  • Dapat dicetak menjadi emas batangan.
  • Bisa bertransaksi online.
  • Emas mudah dijual dan digadaikan.


Sebagai contoh, jika kamu menabung emas Rp10 ribu per hari, maka dalam 30 hari dana yang terkumpul mencapai Rp300 ribu.

Dengan asumsi harga emas Rp2.739.000 per gram pada 15 Mei 2026, jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,11 gram emas. Jika dilakukan rutin selama 1 tahun, emas yang terkumpul bisa mencapai sekitar 1,314 gram.

Nilai emas tersebut juga berpotensi bertambah mengikuti potensi kenaikan harga emas dari waktu ke waktu.

Untuk mengetahui estimasi gramasi emas yang bisa kamu tabung, gunakan fitur Simulasi Tabungan Emas dari Pegadaian.

Untuk pembukaan rekening, kamu dapat melakukannya melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung di kantor cabang Pegadaian terdekat.

Jadi, jika kamu ingin mengandalkan safe haven saat pasar bergejolak, Tabungan Emas di Pegadaian bisa menjadi pilihan menarik untuk mulai berinvestasi dari sekarang.

Baca juga: Saham Suspend: Definisi, Penyebab, Dampak, & Cara Mengatasi

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Pegadaian. All Rights Reserved