Harga Emas Apakah Bisa Turun? Ini Proyeksinya di 2026

Emas dikenal sebagai aset yang relatif stabil dan sering dijadikan pilihan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Meski demikian, pergerakan harga emas tetap dipengaruhi banyak faktor sehingga tidak selalu berada dalam tren naik.
Inilah yang membuat banyak orang mempertanyakan kembali harga emas apakah bisa turun atau tidak.
Untuk menemukan jawabannya, Anda perlu mengenali histori dan pola pergerakan harga emas agar lebih siap menghadapi fluktuasi sekaligus menentukan langkah investasi yang lebih terencana. Mari simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut!
Harga Emas Apakah Bisa Turun?
Jawabannya iya, harga emas bisa turun, terutama saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu seperti saat ini.
Meski cenderung stabil dalam jangka panjang, harga emas dalam jangka pendek hingga menengah bisa mengalami fluktuasi. Pergerakan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Kondisi ekonomi global: Saat ekonomi membaik, investor cenderung beralih ke aset lain, seperti saham, sehingga permintaan emas bisa menurun.
- Nilai tukar dolar AS: Emas diperdagangkan dalam dolar AS, ketika dolar menguat maka harga emas biasanya cenderung melemah.
- Tingkat inflasi: Inflasi tinggi biasanya mendorong kenaikan harga emas, tetapi saat inflasi terkendali, permintaan bisa menurun.
- Situasi geopolitik: Ketegangan global, seperti perang Timur Tengah beberapa waktu belakangan, dapat mendorong kenaikan harga emas. Sementara kondisi yang stabil bisa menekan harga emas.
- Permintaan dan penawaran pasar: Kenaikan produksi atau penurunan permintaan bisa memengaruhi harga emas secara langsung.
- Kebijakan suku bunga bank sentral (The Fed): Kenaikan suku bunga bisa membuat instrumen lain lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil signifikan.
Artinya, emas tetap bisa mengalami penurunan harga di waktu tertentu, meskipun sering dianggap sebagai aset pelindung nilai atau safe haven.
Dalam praktiknya, sulit untuk menentukan seberapa dalam penurunannya karena dipengaruhi banyak faktor.
Namun, penurunan harga bisa berupa koreksi ringan beberapa persen, penurunan lebih dalam hingga puluhan persen saat terjadi perubahan besar di pasar (bear market), atau fluktuasi tajam dalam jangka pendek.
Meski demikian, skenario harga emas jatuh hingga kehilangan seluruh nilainya hampir tidak mungkin terjadi, karena emas tetap memiliki nilai dasar sebagai aset fisik yang dibutuhkan dan digunakan secara luas.
Baca juga: Reksadana vs Emas, Mana yang Tepat untuk Investasi?
Kapan Harga Emas Pernah Turun dan Penyebabnya
Melihat pergerakan harga emas di masa lalu bisa memberi gambaran yang lebih jelas tentang apakah harga emas bisa turun.
Faktanya, emas tidak selalu berada dalam tren naik. Ada beberapa periode di mana harganya justru melemah cukup dalam, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Fenomena ini umumnya terjadi saat kondisi ekonomi berubah dan preferensi investor ikut bergeser. Beberapa periode penurunan harga emas antara lain:
1. Dampak Suku Bunga Tinggi di Awal Tahun 1980-an
Setelah mengalami lonjakan tajam di akhir 1970-an, harga emas mencapai puncaknya pada awal 1980. Namun, setelah itu harga justru turun drastis dalam beberapa tahun berikutnya.
Penurunan ini dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, yaitu melampaui 15%, untuk mengendalikan inflasi.
Akibatnya, instrumen investasi berbunga menjadi lebih menarik sehingga banyak investor melepas emas. Tekanan jual yang besar juga membuat harga emas turun signifikan.
2. Koreksi Setelah Tren Naik Panjang di Periode 2011–2015
Setelah mengalami kenaikan selama bertahun-tahun, harga emas kembali mencapai puncak pada 2011. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama.
Memasuki periode berikutnya, harga emas mengalami koreksi cukup dalam hingga sekitar tahun 2015.
Penyebabnya antara lain pemulihan ekonomi global pasca krisis 2008, berkurangnya stimulus (tapering), dan kenaikan suku bunga acuan. Kondisi ini membuat minat terhadap emas sebagai aset rendah risiko mulai berkurang.
3. Penurunan Lain dan Fluktuasi Jangka Pendek
Selain dua periode besar tersebut, harga emas juga pernah melemah di waktu lain, seperti pada akhir tahun 1990-an ketika inflasi relatif rendah.
Dalam jangka pendek, penurunan harga juga bisa terjadi secara tiba-tiba. Misalnya pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020, di mana investor membutuhkan dana tunai dan menjual berbagai aset, termasuk emas.
Meski sempat turun, harga emas kemudian kembali menguat seiring meningkatnya kebutuhan akan aset rendah risiko.
Baca juga: Harga Emas Fisik Mahal? Ini Keuntungan Investasi Emas Digital
Proyeksi Harga Emas di Tahun 2026
Meski secara historis pernah mengalami penurunan, perkiraan harga emas di tahun 2026 menunjukkan tren yang cenderung naik, walau tetap disertai fluktuasi.
Secara umum, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang yang cukup lebar sepanjang tahun, tergantung dinamika ekonomi yang terjadi.
Beberapa lembaga analis memproyeksikan harga emas 2026 berada di kisaran $3.100 hingga lebih dari $5.515 per ons. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada potensi kenaikan, pergerakan harga tetap tidak sepenuhnya stabil. Berikut ini proyeksinya:
1. LongForecast
LongForecast melihat tren kenaikan bertahap sepanjang tahun. Pada awal April, harga diperkirakan berada di sekitar $3.886, lalu meningkat secara perlahan hingga mendekati $5.413 pada akhir tahun.
Kenaikan ini terjadi secara bertahap dengan pergerakan yang dipengaruhi sentimen pasar dan kondisi ekonomi global.
2. WalletInvestor
Berbeda dengan proyeksi sebelumnya, WalletInvestor memprediksi harga emas sudah berada di level tinggi sejak awal tahun, yaitu sekitar $5.009. Dari titik tersebut, harga diperkirakan terus naik secara konsisten hingga menyentuh kisaran $5.515 di akhir tahun.
Proyeksi ini mencerminkan optimisme terhadap peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
3. CoinCodex
CoinCodex memberikan pandangan yang lebih konservatif. Menurut analisis ini, harga emas kemungkinan bergerak dalam rentang yang lebih lebar dan akan mengalami penurunan secara bertahap.
Dalam skenario ini, harga emas diperkirakan sempat melemah di pertengahan tahun mencapai $3.617 sebelum kembali menguat menjelang akhir tahun di angka $3.775.
Berdasarkan berbagai prediksi di atas, terlihat bahwa arah harga emas di tahun 2026 masih berpotensi naik, tetapi tetap disertai risiko koreksi di beberapa periode.
Perbedaan proyeksi antar analis menunjukkan bahwa harga emas sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama kebijakan suku bunga, tingkat inflasi, dan kondisi global.
Oleh karena itu, penting bagi investor untuk tetap memperhatikan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan.
Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan peluang di tengah perubahan harga emas yang fluktuatif adalah dengan investasi secara bertahap. Cara ini membantu mengurangi risiko akibat fluktuasi harga sekaligus menjaga konsistensi dalam membangun aset.
Untuk memudahkan langkah tersebut, Anda dapat memanfaatkan layanan Tabungan Emas dari Pegadaian. Melalui layanan ini, pembelian emas bisa dilakukan secara rutin dengan nominal yang fleksibel mulai dari Rp10 ribuan.
Tabungan Emas dapat diakses melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau datang langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat.
Yuk, mulai langkah investasi emas sekarang dan bangun nilai aset secara bertahap sesuai kemampuan dan tujuan Anda.
Baca juga: Kenali 10 Perbedaan Emas Asli dan Palsu, Jarang Diketahui!
Berita dan Artikel Lainnya

Emas
Apa Itu Emas Cukim? Ini Keunggulan dan Kekurangannya
Emas cukim adalah emas hasil peleburan ulang tanpa sertifikat resmi. Simak kelebihan, kekurangan, serta perbedaannya dengan emas batangan 24 karat berikut ini!

Emas
Mengenal Lambang Kimia Emas dan Karakteristik Uniknya
Lambang kimia emas bukan sekadar simbol, tetapi mencerminkan nilai investasi yang tidak lekang oleh waktu. Yuk, simak informasi selengkapnya di artikel ini!

Emas
SBN Atau Emas, Mana Investasi yang Baik Untuk Jangka Panjang?
Cari tahu lebih tepat pilih SBN atau emas untuk investasi jangka panjang. Pelajari perbedaan, kelebihan, dan kekurangan keduanya dalam artikel ini!
